
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Indeks dolar Amerika Serikat atau US Dollar Index (DXY) melanjutkan tren penguatan dan telah menembus level psikologis 100 pada awal pekan ini. Penguatan ini didorong kombinasi faktor kebijakan moneter, dinamika geopolitik, hingga pergerakan harga energi global.
Sepekan terakhir indeks dolar AS terpantau terus melanjutkan tren penguatan. Melansir Trading Economics pukul 15.45 WIB, DXY berada di level 100,3 naik 0,12% dalam sehari dan 1,9% ytd.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Future Brahmantya Himawan menjelaskan, dari sisi kebijakan, sikap The Fed yang masih mempertahankan suku bunga di level tinggi pada Maret 2026 menjadi pendorong utama. Kondisi ini membuat aset berbasis dolar AS tetap menarik di mata investor global.
IHSG Turun Tipis 0,08% ke 7.098, Top Losers LQ45: INCO, MDKA, BBCA, Senin (30/3)
“Di sisi lain, peran dolar sebagai petrodollar kembali menguat. Ketegangan di Timur Tengah, khususnya risiko gangguan distribusi energi seperti di Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan kebutuhan dolar. Kombinasi inilah yang membuat DXY kembali menguat,” ujar Bram kepada Kontan, Senin (30/3/2026).
Di tengah ketidakpastian global, investor juga masih melihat dolar AS sebagai aset safe haven. Yield obligasi AS yang kompetitif, likuiditas tinggi, serta status dolar sebagai mata uang cadangan dunia menjadi daya tarik utama.
Ke depan, arah DXY akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan Federal Reserve, data ekonomi AS, serta dinamika geopolitik dan harga energi. “Selama belum ada penurunan suku bunga yang agresif, dolar masih berpotensi tetap kuat,” tegas Bram.
Ke depan, pergerakan indeks dolar AS diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh arah kebijakan Federal Reserve, rilis data ekonomi AS, serta dinamika geopolitik dan harga energi.
Untuk jangka pendek hingga semester I 2026, Brahmantya memproyeksikan DXY bergerak di kisaran 101-102 dengan kecenderungan menguat. Level 100 dinilai sebagai area psikologis penting.
“Jika suku bunga tetap tinggi dan harga energi meningkat, DXY berpotensi menguji 103–105. Sebaliknya, jika terjadi normalisasi geopolitik dan pelonggaran kebijakan, DXY bisa terkoreksi ke bawah 100,” paparnya.
Di tengah kondisi melonjaknya indeks dolar AS, Brahmantya menyampaikan jika investor dapat mencermati aset safe haven seperti franc Swiss dan yen Jepang. Swiss Franc (CHF) dan Japanese Yen (JPY) dinilai tetap menarik, meski pergerakannya bergantung pada sumber penguatan dolar.
Rupiah Tembus Rp 17.002 per Senin (30/3), Efek Perang dan Tekanan Fiskal
“Jika dolar menguat karena faktor suku bunga dan yield, CHF dan JPY cenderung melemah terhadap dolar. Namun dalam kondisi krisis yang lebih dalam, keduanya bisa menguat bersamaan dengan dolar karena sama-sama menjadi aset lindung nilai,” tutup Brahmantya.