
Kecelakaan kereta api yang melibatkan KRL CommuterLine dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) sekitar pukul 20.56 WIB meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban. Dalam peristiwa tersebut, gerbong yang mengalami dampak paling parah adalah gerbong paling belakang KRL yang merupakan gerbong perempuan. Seluruh korban yang dievakuasi dilaporkan merupakan perempuan dewasa.
Data terbaru per Rabu (29/4/2026) mencatatkan sebanyak 16 orang meninggal dunia dan 90 orang lainnya mengalami luka-luka. Kepala Basarnas Muhammad Syafii memastikan proses evakuasi telah selesai dan seluruh korban berjenis kelamin perempuan.
Fakta ini kemudian memunculkan pertanyaan: Apa alasan gerbong perempuan ada di paling depan dan belakang rangkaian kereta?
Sejarah Gerbong Perempuan di Indonesia
Insiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur berawal dari sebuah taksi listrik yang mogok di perlintasan sebidang, sehingga tertabrak KRL. Dampaknya, rangkaian KRL berikutnya tertahan di Stasiun Bekasi Timur. Saat dalam kondisi berhenti, KA Argo Bromo Anggrek yang melintas dari arah belakang kemudian menabrak KRL tersebut tepat di gerbong belakang yang merupakan gerbong khusus perempuan.
Kebijakan gerbong khusus perempuan yang ditempatkan di bagian depan dan belakang ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang berkaitan dengan kebutuhan keamanan penumpang.
Gerbong perempuan, atau dikenal juga sebagai Kereta Khusus Wanita (KKW), mulai diperkenalkan oleh Kementerian Perhubungan pada 2010. Kehadiran fasilitas ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan, serta rasa aman bagi perempuan dalam menggunakan transportasi publik.
Kebijakan ini lahir sebagai respons terhadap tingginya risiko pelecehan seksual dan ketidaknyamanan yang sering terjadi di transportasi umum yang padat, terutama pada jam sibuk. Kondisi desakan penumpang dan minimnya ruang pribadi membuat perempuan lebih rentan mengalami pelecehan di ruang publik.
Laporan dari Thomson Reuters Foundation bersama YouGov pada 2014 juga menunjukkan bahwa transportasi yang tidak aman berdampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi perempuan. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa perempuan di kota besar cenderung lebih bergantung pada transportasi umum, sehingga resiko ketidakamanan memiliki dampak lebih besar bagi mereka.
Dengan adanya gerbong perempuan, diharapkan tersedia ruang perjalanan yang lebih aman, termasuk bagi perempuan yang bepergian sendiri maupun ibu yang membawa anak kecil. Selain itu, gerbong ini juga dilengkapi dengan penanda khusus seperti warna merah muda dan stiker agar mudah dikenali.
Alasan Gerbong Perempuan Ada di Paling depan dan Belakang Rangkaian Kereta
Menurut Pengamat Transportasi Kereta Api, Joni Martinus, posisi di ujung rangkaian memudahkan akses keluar masuk stasiun, terutama bagi penumpang yang membawa anak atau barang bawaan. Selain itu, posisi tersebut juga memudahkan petugas keamanan dalam memantau kondisi di dalam kereta.
Gerbong di bagian ujung dinilai lebih mudah diawasi dan lebih cepat dijangkau jika terjadi gangguan atau insiden. Penempatan ini juga mengurangi potensi bercampurnya penumpang dengan gerbong umum, sehingga perempuan dapat langsung mengenali gerbong khusus tanpa harus mencari.
Selain itu, penempatan di ujung rangkaian membantu mengatur distribusi penumpang agar tidak terpusat di bagian tengah kereta. Hal ini berkontribusi pada kelancaran arus naik dan turun penumpang di stasiun.
Gerbong perempuan memberikan ruang aman dari potensi pelecehan seksual dan tindakan kriminalitas lainnya. Selain itu, fasilitas ini juga menjadi bentuk akomodasi terhadap kebutuhan penumpang perempuan yang ingin menghindari kondisi berdesakan dengan lawan jenis saat kereta penuh.
Dengan adanya pemisahan ini, penumpang perempuan dapat merasakan perjalanan yang lebih nyaman dan tenang. Rasa aman yang meningkat juga mendorong lebih banyak perempuan untuk menggunakan transportasi publik sebagai pilihan mobilitas sehari-hari.
Penempatan Dinilai Efektif oleh Pengamat
Penempatan gerbong perempuan di bagian depan dan belakang rangkaian kereta dinilai sudah efektif oleh para pengamat transportasi. Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menyatakan bahwa posisi tersebut merupakan pilihan yang paling tepat.
Jika gerbong perempuan ditempatkan di tengah, penumpang akan kesulitan mengenali karena keterbatasan penanda. Hal ini berpotensi menimbulkan kebingungan dan mengganggu kelancaran operasional.
Selain itu, penempatan di ujung rangkaian juga sejalan dengan praktik di berbagai negara seperti Jepang dan China yang menerapkan pola serupa dalam sistem transportasi mereka. Posisi tersebut memudahkan pengaturan penumpang sekaligus menjaga konsistensi layanan.
Namun demikian, Djoko menekankan bahwa persoalan utama dalam kecelakaan kereta bukan terletak pada penempatan gerbong perempuan. Ia menilai akar masalah berada pada infrastruktur, khususnya perlintasan sebidang. Jalur antara kereta jarak jauh dan KRL seharusnya dipisahkan karena memiliki perbedaan kecepatan yang signifikan.