
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dilaporkan berada dalam kondisi tidak sadarkan diri sehingga tidak mampu terlibat dalam pengambilan keputusan apa pun.
Sebuah memo intelijen mengungkap kabar tersebut beberapa minggu setelah ia mengalami luka parah akibat serangan militer Amerika Serikat (AS)-Israel yang menewaskan ayahnya sekaligus memicu perang pada 28 Februari lalu.
Sosok pemimpin berusia 56 tahun itu belum pernah muncul ke publik sejak mengalami luka dalam serangan pada 28 Februari. Sejak saat itu, otoritas Iran hanya menyampaikan pernyataan tertulis yang diklaim berasal darinya, sehingga memunculkan keraguan terhadap validitas kepemimpinannya.
Memo intelijen itu menyebutkan Mojtaba saat ini menjalani perawatan medis akibat kondisi yang tergolong parah di kota suci Qom, sekitar 87 mil di selatan Teheran.
“Mojtaba Khamenei sedang dirawat di Qom dalam kondisi parah, tidak mampu terlibat dalam pengambilan keputusan apa pun oleh rezim,” demikian isi memo yang berdasarkan intelijen AS dan Israel, sebagaimana diberitakan The Time pada Selasa (9/4).
Sejumlah laporan yang saling bertentangan terus bermunculan mengenai tingkat keparahan cedera Khamenei sejak ia terluka pada awal pecahnya perang. Sementara itu, ketidakhadirannya di ruang publik semakin memicu berbagai spekulasi.
Sebagian laporan menyebut ia hanya mengalami patah kaki dan cedera ringan, namun laporan lain menyatakan ia berada dalam kondisi koma. Sejak ditetapkan sebagai penerus ayahnya, Ali Khamenei pada bulan lalu, Mojtaba disebut tetap mengeluarkan perintah dan pernyataan tertulis yang disiarkan melalui pembaca berita media pemerintah.
“Saya meyakinkan semua orang bahwa kami tidak akan menahan diri untuk membalas darah para martir Anda,” demikian pernyataan awal yang diduga disampaikan pemimpin tertinggi Iran pada 12 Maret.
Pernyataan yang diklaim berasal dari Mojtaba pada 1 April dilaporkan memuat ancaman lanjutan, dengan menegaskan komitmen untuk mendukung kelompok-kelompok bersenjata anti-Amerika dan anti-Israel di kawasan Timur Tengah.
“Saya dengan tegas menyatakan bahwa kebijakan konsisten Republik Islam Iran, dalam melanjutkan jalan Imam yang telah wafat dan pemimpin yang gugur sebagai martir, didasarkan pada kelanjutan dukungan terhadap perlawanan melawan musuh Zionis-Amerika,” demikian isi pernyataan yang mengklaim berasal dari Mojtaba.
Luka Ringan
Seorang pejabat Iran menyatakan kepada Reuters pada Rabu (8/4) bahwa Mojtaba Khamenei mengalami luka ringan namun tetap menjalankan tugasnya sebagai pimpinan tertinggi Iran. Pejabat tersebut tidak merinci waktu Mojtaba mengalami luka maupun alasan ia belum menyampaikan pernyataan kepada publik sejak penunjukannya.
Sejak dipilih oleh majelis ulama menjadi pimpinan tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei belum pernah muncul di hadapan publik Iran maupun menyampaikan pernyataan resmi. Hal ini memicu berbagai spekulasi yang menyebut ia mengalami luka dalam serangan gabungan militer Israel dan AS.
Seorang pejabat senior Israel menyatakan kepada Reuters bahwa temuan intelijen negaranya menunjukkan Khamenei mengalami luka ringan. Hal itu menjelaskan ketidakhadirannya di hadapan publik.
Sementara itu, sumber-sumber yang berbicara kepada Reuters menyebut pengangkatan pemimpin tertinggi baru tersebut mendapat dukungan luas dari Korps Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Mojtaba elama bertahun-tahun menjabat sebagai kepala kantor ayahnya—yang dalam bahasa Persia dikenal sebagai beyt—ia berperan langsung dalam menjalankan roda pemerintahan Iran.
Namun, keterlibatannya yang lebih banyak berlangsung di balik layar membuat namanya kurang dikenal oleh publik luas karena jarang menyampaikan pidato maupun tampil di hadapan umum.
=====
https://nypost.com/2026/04/07/world-news/irans-supreme-leader-mojtaba-khamenei-unconscious-and-unable-to-be-involved-in-any-decision-making/
https://www.reuters.com/world/middle-east/irans-new-supreme-leader-lightly-injured-still-active-iranian-official-tells-2026-03-11/