Intip peta persaingan saham dengan market cap terbesar di BEI pada 2026

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Peta jajaran saham dengan kapitalisasi pasar alias market cap pada 2026 tampaknya masih akan didominasi oleh saham emiten milik para konglomerat, yang secara komposisi diperkirakan tak jauh berbeda dari tahun lalu. 

Pada akhir 2025, PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) berada di puncak klasemen sebagai saham dengan kapitalisasi pasar tertinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Per 30 Desember 2025, market cap BREN mencapai Rp 1.298 triliun. 

Di urutan kedua ada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 985 triliun atau setara dengan 6,22% dari total market cap BEI. Menyusul saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan market cap Rp 778 triliun. 

Kemudian ada saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 606 triliun. Lalu di urutan kelima ada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan market cap sebesar Rp 549 triliun. 

Bullish IHSG Diprediksi Berlanjut, IPOT Rekomendasikan Sektor Properti dan Tambang

Komposisi jajaran lima terbesar itu mengalami sedikit pergeseran di awal 2026 ini. Per Jumat (9/1), saham BREN masih berada di posisi puncak dengan market cap Rp 1.268 triliun atau setara dengan 7,78% dari total market cap di BEI. 

Urutan kedua dan ketiga pun masih sama, dipegang oleh saham BBCA dengan kapitalisasi pasar Rp 992 triliun dan DSSA sebesar Rp 795 triliun. Lalu di urutan keempat, ada saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). 

Di mana, saham AMMN berhasil menggeser posisi TPIA. Adapun kapitalisasi pasar AMMN mencapai Rp 592 triliun. Sementara kapitalisasi pasar TPIA menyusut dari posisi akhir 2025 menjadi Rp 582 triliun per Jumat (9/1). 

Investment Analyst Edvisor Provina Visindo Indy Naila memperkirakan pada 2026, investor juga bersikap cukup spekulatif. Namun kondisi juga akan tergantung dengan kondisi makroekonomi dan kinerja keuangan para emiten. 

  BBCA Chart by TradingView  

“Saham konglomerasi mungkin akan bergerak cukup solid di 2025, khususnya saham konglomerasi dengan fundamental bagus,” jelasnya kepada Kontan, Minggu (11/1).

IHSG Berpeluang Mengyat Senin (12/1) Didorong Sentimen Global dan Domestik

Meski begitu, Indy menilai BBCA dan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) punya pengaruh besar terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurutnya, keduanya akan dipengaruhi stimulus yang mendorong perbankan. 

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menimpali, tampaknya klasemen saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di 2025 masih akan diisi oleh saham-saham milik konglomerat. 

“Karena memang secara fundamental bisnis, ekosistem bisnis, diversifikasi bisnis, hingga sosok yang di belakangnya menjadi penentu sehingga narasi yang dibangun mendorong ekspektasi melebihi mimpi,” kata dia. 

Namun, Nico bilang tidak menutup kemungkinan akan terjadi perubahan komposisi. Dengan catatan, emiten yang berhasil merangsek ke jajaran tersebut memiliki sektor yang sejalan dengan rencana kerja pemerintah.

Menurutnya, sektor yang sejalan dengan program kerja pemerintah menjadi salah satu sentimen yang sangat kuat karena berhubungan langsung dengan regulasi. Selain itu, aksi korporasi juga menjadi faktor penentu. 

“Aksi korporasi dari suatu perusahaan juga menjadi faktor pennant, seberapa jauh saham tersebut mampu melangkah mengalami kenaikkan,” ucap Nico.

Dia menilai saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) berpotensi masuk ke dalam jajaran 10 besar sebagai saham dengan market cap terbesar di BEI. 

Di Tengah Reli IHSG, Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing Sepekan Terakhir

“Karena ke empat saham tersebut  memiliki peluang yang cukup besar. Baik secara sentimen dan fundamental serta sosok yang di belakang perusahaan tersebut,” ucap Nico. 

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas menuturkan potensi persaingan masih terbuka lebar di 2025. Selain kinerja para emiten yang sudah eksisting, emiten baru juga berpotensi menambah persaingan. 

Apalagi, Bursa Efek Indonesia terus menargetkan bisa membawa lebih banyak lighthouse company untuk bisa IPO, perusahaan dengan kapitalisasi pasar minimal Rp 2 triliun dan memiliki minimal 15% free float. 

Pada 2026, BEI menargetkan ada 6 lighthouse company yang bisa melantai di pasar saham. Angka tersebut tinggi dibandingkan target pada 2025, di mana BEI hanya mengincar IPO dari lima perusahaan mercusuar. 

“Namun dari emiten yang sudah ada, saham BRMS dan INCO berpotensi masuk ke dalam jajaran 10 besar. Kedua saham itu sedang mendapatkan katalis dari kenaikan harga komoditas dunia,” jelas Nafan. 

IHSG Ditutup di Level 8.936, Intip Saham Net Buy Terbesar Asing di Akhir Pekan

Dari jajaran saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI, Nafan menyukai saham BBCA dengan target harga di Rp 8.700, BBRI dengan target harga terdekat di Rp 3.820, BMRI di Rp 5.500 dan TLKM dengan target di Rp 3.600. 

Sementara, Indy menilai investor masih dalam mencermati saham BBCA dengan target harga di Rp 10.000. Kemudian, investor juga dapat mencermati BMRI dengan target harga Rp 5.500 dan saham TPIA di Rp 7.800.