
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Kenaikan harga emas dunia yang sempat menembus level US$5.400 per troy ons di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat–Israel melawan Iran mulai mengubah peta investasi di pasar modal.
Melansir data Bloomberg, Senin (2/3/2026), harga emas spot terpantau berada di level US$5.398,29 atau naik 2,26%. Adapun, harga emas Comex juga mencatat penguatan sebesar 2,96% menjadi US$5.403,3 per troy ounce.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, meskipun harga emas telah melaju signifikan, saham-saham emiten tambang emas masih memiliki daya tarik kuat bagi investor ritel. Hal ini didorong oleh permintaan terhadap aset safe-haven yang tetap kokoh di tengah ketidakpastian geopolitik.
“Emas tetap menarik untuk investor ritel karena permintaan terhadap aset safe‑haven masih kuat dan koreksi belum tentu cepat terjadi. Namun, bagi yang konservatif, mungkin menunggu koreksi teknikal kecil sebelum masuk tetap menjadi pilihan bijak,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (2/3/2026).
: IHSG Terguncang, Saham Logam Mulia ANTM, BRMS & EMAS Naik jadi Top Leaders
Terkait strategi menyusun komposisi portofolio, investor ritel disarankan untuk mulai meningkatkan eksposur pada aset defensif seperti saham emas ataupun instrumen aman lainnya sembari mempertahankan porsi kas yang cukup.
Menurut Abida, memiliki cadangan kas yang cukup tidak hanya berfungsi sebagai peredam volatilitas portofolio, tetapi juga menyediakan likuiditas untuk menangkap peluang saat harga pasar bergerak tajam secara mendadak.
Adapun bagi investor ritel dengan profil risiko moderat, dia melihat bahwa strategi akumulasi bertahap untuk jangka menengah jauh lebih rasional dibandingkan dengan melakukan perdagangan jangka pendek.
“Strategi akumulasi bertahap jangka menengah lebih rasional karena harga emas dan saham terkait saat ini dipengaruhi oleh faktor geopolitik yang fluktuasinya bisa sangat tajam dan sulit diprediksi jangka pendek,” ucapnya.
Pada perdagangan hari ini, IHSG ditutup melemah sebesar 2,65% menuju level 8.016,86. Tercatat, hanya 108 saham yang mampu ditutup menguat, sementara sebanyak 671 saham terkontraksi, dan 41 saham bergerak stagnan.
Meski indeks melemah, saham emiten berbasis emas kompak menguat. Kenaikan tertinggi diraih oleh PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) yang menorehkan pertumbuhan sebesar 6,12% menuju level Rp1.995 per saham.
Posisi tersebut disusul saham PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) yang naik 5,98% menjadi Rp4.610 dan saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk. (PSAB) membukukan penguatan sebesar 5,45% menuju level Rp580 per saham.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.