
Ussindonesia.co.id , JAKARTA —Pasar penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) tampak sepi sepanjang kuartal I/2026. Adalah PT BSA Logistics Indonesia Tbk. (WBSA) yang berpotensi menjadi emiten baru pertama pada tahun ini alias pecah telur IPO.
Sepanjang 1 Januari—24 Maret 2026, tidak ada perusahaan yang menyampaikan aksi penawaran umum perdana saham melalui sistem e-IPO. Baru pada Rabu (25/3/2026), muncul pengumuman dari BSA Logistics Indonesia.
Calon emiten di sektor logistik yang terafiliasi dengan Grup Sinar Mas, PT BSA Logistics Indonesia Tbk. (WBSA), bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia dengan menargetkan perolehan dana hingga Rp306 miliar melalui IPO.
Sebagai informasi, BSA Logistics tercatat bergerak di bidang jasa logistik terpadu yang meliputi angkutan darat, pengurusan transportasi (freight forwarding) laut dan udara, serta pergudangan dan penyimpanan, termasuk Inland Logistics Terminal (ILT).
Berdasarkan prospektus yang dirilis di Bursa Efek Indonesia, perseroan berencana menawarkan maksimal 1,8 miliar saham atau setara dengan 20,75% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Saham tersebut dipasarkan dalam kisaran harga Rp150–Rp170 per saham, dengan nilai nominal Rp40 per saham.
Adapun, masa penawaran awal (bookbuilding) dijadwalkan berlangsung pada 25 Maret –27 Maret 2026. Selanjutnya, penawaran umum akan digelar pada 1–8 April 2026, dengan target pencatatan saham di BEI pada 10 April 2026.
Seluruh dana hasil IPO, setelah dikurangi biaya emisi, akan difokuskan untuk ekspansi usaha. Sekitar Rp215 miliar akan digunakan untuk mengakuisisi 99,99% saham PT Bermuda Inovasi Logistik.
: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Kamis 26 Maret 2026
Berdasarkan data BEI, aktivitas pencatatan saham perdana (IPO) masih kosong sejak awal tahun. Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per 27 Februari 2026 terdapat 7 perusahaan dalam pipeline IPO dengan estimasi total nilai IPO sebesar Rp2,21 triliun.
Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, hingga 22 Februari 2026, terdapat delapan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Sebanyak lima di antara calon perusahaan tercatat ini merupakan perusahaan aset skala besar.
“Hingga saat ini, terdapat delapan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI, dengan tiga perusahaan aset skala menengah dan lima perusahaan aset skala besar,” ujar Nyoman, Minggu (22/2/2026).
Nyoman memerinci sebanyak dua perusahaan merupakan perusahaan dari sektor basic materials, satu perusahaan consumer non-cyclicals, dan satu perusahaan energi.
Lalu dua perusahaan dari sektor finansial, satu perusahaan dari sektor industrials, dan satu perusahaan sektor transportasi dan logistik.
: Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Kamis 26 Maret 2026
Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana menjelaskan investor asing pasti melakukan monitor terhadap perkembangan reformasi pasar modal Indonesia.
“Saya yakin dengan peraturan-peraturan baru yang akan diterapkan, akan membuat market menjadi lebih likuid, lebih transparan, dan governance yang lebih bagus,” ujar Oki, Rabu (25/2/2026).
Oki juga menjelaskan investor asing sangat sensitif terhadap risiko likuiditas. Ia menekankan, berbagai agenda reformasi pasar yang tengah didorong regulator pada dasarnya bertujuan memperbaiki transparansi sekaligus meningkatkan kualitas likuiditas.
“Semua reformasi ini kan untuk membuat market jauh lebih likuid dari sekarang,” katanya.
Dia juga menuturkan saat ini investor asing menunggu adanya likuiditas untuk masuk ke dalam pasar modal Indonesia.
“Fundamentalnya bagus, growth story-nya bagus. It’s just a matter of time sebelum likuiditas itu balik ke market,” ujarnya.
IDX COMPOSITE INDEX – TradingView
Terpisah, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai awal 2026 ini bukan momentum yang ramah untuk IPO. Selain volatilitas global akibat tensi tarif dan sovereign outlook Indonesia yang sempat mendapat tekanan dari Moody’s, pasar juga masih mencerna isu metodologi free float MSCI dan implementasi aturan baru BEI yang mewajibkan free float minimum 15% sejak awal pencatatan serta keterbukaan UBO di atas 1%.
Kombinasi regulasi yang lebih ketat dan sorotan tata kelola membuat sebagian calon emiten—terutama yang struktur kepemilikannya terkonsentrasi—memilih wait and see.
“Bahkan ada rumor satu kandidat besar menunda rencana listing karena merasa belum siap dengan eksposur dan tekanan regulasi baru,” kata Liza.
Dia melanjutkan, secara global tren IPO awal tahun ini juga relatif selektif. Misalnya di Amerika Serikat dan Asia, hanya perusahaan dengan neraca kuat dan valuasi rasional yang berani masuk pasar, sehingga sentimen kehati-hatian ini tidak hanya terjadi di Indonesia.
Sementara itu, PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) mengungkapkan tengah mengelola mandat pencatatan saham perdana atau IPO bagi 7 hingga 8 perusahaan dalam pipeline 2026.
President Director KISI Kyoung Hun Nam menjelaskan bahwa calon emiten yang mengantre di KISI memiliki profil bisnis yang beragam. Sektor-sektor tersebut mencakup perbankan, pariwisata, pertambangan, hingga infrastruktur.
“Jumlah total IPO [dalam antrean KISI], saat ini kira-kira sekitar tujuh hingga delapan perusahaan,” ungkap Kyoung Hun Nam di sela-sela acara KISI Challenge The Next Wave di Jakarta, Jumat (27/2/2026) malam.
Kyoung Hun Nam menyebutkan dalam daftar itu terdapat perusahaan dengan nilai aset cukup signifikan, yakni berkisar antara Rp2 triliun hingga Rp3 triliun.