January effect bikin IHSG ATH dua hari perdagangan beruntun

Ussindonesia.co.id JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada awal Januari 2026 mencatat level all time high (ATH) penutupan baru dua hari perdagangan beruntun. Masing-masing ATH di 8.859 pada perdagangan Senin (5/1) dan 8.933 pada perdagangan Selasa (6/1).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menilai penguatan IHSG tersebut dipengaruhi oleh dinamika January Effect, di mana saham-saham lapis dua dan tiga juga turut mendomplang laju indeks komposit.

“Apalagi saham-saham ini juga saham basic materials yang mendapat sentimen positif dari peningkatan harga komoditas, imbas dari eskalasi dinamika geopolitik yang terjadi khususnya di Amerika Latin, yaitu penangkapan Presiden Venezuela. Ini bisa jadi katalis positif penguatan pasar Indonesia,” kata Nafan kepada Bisnis, Selasa (6/1/2026).

: Sinyal Kuat January Effect, IHSG Hampir Tembus 9.000 Usai Menghijau 3 Hari Beruntun

Saham lapis dua dan tiga yang terwakili di dalam IDX SMC Composite dan IDX SMC Liquid, masing-masing pada perdagangan Selasa menguat 1,70% dan 1,30%. Secara year to date (YtD), keduanya meningkat 5,82% dan 3,16%, dibandingkan IHSG yang sejak awal 2026 menguat 3,32%.

Sementara menilik papan indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham-saham Main Board pada penutupan Selasa menguat 0,64% (2,62% YtD), Development Board naik 1,29% (5,30% YtD), dan Acceleration Board naik 3,19% (8,32% YtD).

“Selain January Effect, penguatan juga didorong oleh kondisi makro ekonomi domestik yang solid. Surplus neraca perdagangan Indonesia 67 hari berturut-turut serta inflasi yang stagnan,” ujar Nafan.

Melansir IDX Mobile, penguatan IHSG pada perdagangan Selasa (6/1) didorong oleh 451 saham yang ditutup menguat. Sedangkan, 269 saham ditutup melemah dan 238 saham tidak berubah.

Sepanjang perdagangan hari ini pasar mencatat transaksi 65,72 miliar saham dengan nilai Rp33,86 triliun. Kapitalisasi pasar saat ini mencapai Rp16.306 triliun.

: : ATH Lagi! IHSG Hari Ini (6/1) Ditutup Menguat ke Level 8.933

Tim riset Phintraco Sekuritas menjabarkan sejumlah sentimen yang menyertai pasar modal. Pertama, serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela memang tidak terlalu direspons negatif oleh pasar, namun eskalasi global ini mendorong kenaikan mayoritas komoditas logam yang berimbas pada laju saham emiten berbasis komoditas tersebut.

Kedua, investor menyoroti sejumlah data ekonomi penting yang telah dirilis pada Senin (5/1/2026) lalu, di mana inflasi Indonesia tercatat sebesar 2,92% YoY di Desember 2025, naik dari 2,72% YoY di November 2025. Laju inflasi pada Desember 2025 ini merupakan level tertinggi sejak April 2024, namun masih dalam kisaran target Bank Indonesia di 1,5% sampai 3,5%.

Kemudian, surplus neraca perdagangan bulan November 2025 berkurang menjadi US$2,66 miliar dari US$4,34 miliar di November 2024. Hal ini karena turunnya ekspor sebesar 6,6% YoY dan impor yang naik 0,46% YoY. 

Pada penutupan pasar Senin (5/1), saat IHSG ditutup naik 1,27% ke level ATH sebelumnya di 8.859,19, juga diikuti dengan tanda-tanda penguatan lanjutan. Phintraco Sekuritas menyebut, secara teknikal indikator MACD membentuk Golden Cross seiring dengan penguatan Stochastic RSI di area pivot. 

“Hal ini juga ditopang oleh kenaikan volume beli. Sehingga diperkirakan IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menguji level 8.900, sebelum menuju level psikologis 9.000,” tulis riset tersebut.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.