
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Kinerja IDX High Dividend 20 yang lesu sepanjang 2025, dinilai disebabkan oleh kalah pamornya yield dividen saham dalam indeks ini dibandingkan instrumen pendapatan tetap yang minim risiko.
Untuk diketahui, sepanjang tahun lalu, indeks yang mengukur kinerja saham-saham dengan dividen tinggi ini, mencatatkan kinerja yang terkoreksi sepanjang tahun.
Meskipun begitu, terdapat beberapa periode indeks ini berkinerja menguat, walau masih di bawah level pembukaan perdagangan awal tahun 2025 sebesar 516,18. Beberapa periode tersebut antara lain Mei dan Oktober 2025.
: Kinerja 2025 Lesu, Cek Prospek Indeks Saham Royal Dividen UNTR, TLKM, ASII Cs
Kenaikan kinerja indeks tersebut pada periode Mei dan Oktober tidak terlepas dari sentimen utamanya. Beberapa emiten memang tercatat membagikan dividen tahun buku 2024 pada Mei–Juli 2025, seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) senilai Rp21,04 triliun atau PT United Tractors Tbk. (UNTR) senilai Rp7,8 triliun.
Begitu juga pada Oktober 2025, UNTR masih tercatat sebagai emiten yang membagikan dividen pada periode tersebut, dengan nilai sebesar Rp2,05 triliun. Dividen tersebut merupakan dividen interim tahun buku 2025. PT Astra International Tbk. (ASII) juga tercatat membagikan dividen interim senilai Rp3,96 triliun pada Oktober lalu.
: : Update Jadwal Pembagian Dividen Interim Perdana CDIA Prajogo Pangestu Januari 2026
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, menilai lesunya kinerja indeks pengukur saham royal dividen pada tahun lalu, lebih disebabkan kalah pamornya saham-saham tersebut dibandingkan instrumen lainnya. Abida membandingkannya dengan daya tarik SRBI yang dinilai mampu memberikan imbal hasil di atas 7%.
“Koreksi indeks IDX High Dividend 20 sebesar 1,22% dalam setahun terakhir terutama dipicu oleh persaingan ketat dari instrumen pendapatan tetap seperti SRBI yang menawarkan imbal hasil menarik hingga di atas 7%, sehingga menarik sebagian likuiditas keluar dari pasar saham,” katanya kepada Bisnis, dikutip Selasa (6/1/2026).
: : Alamtri (ADRO) Umumkan Kurs Dividen Interim, Investor Kantongi Rp145 per Saham
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, sejumlah saham dalam IDX High Dividend 20 sebetulnya menawarkan yield yang lebih besar dari 5%. Terbesar, BMRI menawarkan yield sebesar 10,06% pada pembagian dividen tahun buku 2024. Hanya saja, sejumlah saham ternama justru menawarkan imbal hasil di bawah level tersebut.
Emiten
Harga saat cum dividen (dalam rupiah)
Besaran dividen (dalam rupiah per saham)
Yield (%)
BBCA
7.950,00
300,00
3,77
BBRI
3.800,00
343,40
9,03
BMRI
4.630,00
466,18
10,06
ADRO
2.120,00
158,80
7,49
TLKM
2.910,00
178,50
6,13
ASII
4.670,00
406,00
8,69
ANTM
3.200,00
151,77
4,74
UNVR
1.560,00
88,00
5,64
INDF
8.200,00
280,00
3,41
PGAS
1.885,00
182,08
9,65
BBNI
4.250,00
374,06
8,80
Tabel 1. Yield dividend dari 10 saham IDX High Dividend 20 pada tahun buku 2024.
Fenomena Dividend Trap
Abida menilai, langkah investor pada perdagangan tahun lalu cenderung menghindari fenomena dividend trap. Oleh karena itu, kenaikan harga saham yang menawarkan dividen tinggi, hanya berlangsung sesaat pada periode-periode pembagian dividen. Meskipun begitu, Abida menilai fenomena ini sebagai fase re-rating valuasi yang wajar sebelum momentum pertumbuhan saham kembali menguat pada tahun ini.
Hanya saja, keengganan berinvestasi dalam jangka waktu yang panjang terhadap saham dengan tawaran dividen yang tinggi, disebut bukan terjadi lantaran hilangnya daya tarik dividen sebagai pemanis, melainkan karena pelaku pasar tengah menanti konfirmasi pemulihan laba emiten sepanjang 2025.
“Momentum Tahun Kuda Api 2026 diprediksi menjadi titik balik penguatan berkelanjutan yang didorong oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global dan domestik yang akan menurunkan biaya modal serta meningkatkan profitabilitas emiten,” katanya.
Memasuki 2026, Abida menilai kinerja IDX High Dividend 20 akan cenderung menguat. Hal itu sejalan dengan target IHSG yang diperkirakan mampu menembus level 10.000 tahun ini. Selain itu, prospek pertumbuhan laba korporasi pada tahun ini diprediksi bakal memberikan sentimen positif bagi saham-saham tersebut.
“Pertumbuhan laba korporasi yang diproyeksikan pulih di kisaran 5% hingga 11% pada periode 2025-2026 memberikan landasan fundamental yang kuat bagi apresiasi harga saham dalam jangka menengah,” katanya.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.