
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Hasil survei konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi menguat.
Ini terlihat dari data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia April 2026 yang tercatat 123,0, sedikit naik dari 122,9 pada Maret 2026.
Meski demikian, bila dilihat sejak awal tahun, optimisme konsumen masih menunjukkan tren melandai. Pada Januari 2026, IKK tercatat masih mencapai 127,0.
Investment Specialist Bahana Sekuritas Yazid Muamar mengatakan data IKK April yang naik tipis menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tidak langsung anjlok setelah Idul Fitri.
Ini merupakan sinyal positif untuk volume penjualan emiten konsumer khususnya fast-moving consumer goods atau FMCG, sehingga berpotensi tetap terjaga di level yang stabil pada awal kuartal II-2026.
Rupiah Rebound di Tengah Ketegangan AS-Iran, Pasar Nantikan Langkah BI
“Emiten seperti MYOR, AMRT, MIDI, CMRY dan ULTJ akan diuntungkan dari daya beli yang masih terjaga. Selain itu adanya program Makan Bergizi Gratis akan menjadi tambahan serapan permintaan produk-produk emiten,” kata Yazid kepada Kontan, Selasa (12/5/2026).
Di sisi lain, IKK yang tinggi tidak selalu berkorelasi langsung dengan lonjakan harga saham jika biaya produksi (kurs) meningkat lebih cepat dibandingkan daya beli.
Untuk itu, investor perlu memilih emiten yang paling tidak sensitif terhadap kenaikan harga bahan baku dan hindari emiten yang membeli bahan baku menggunakan dolar Amerika Serikat karena rupiah cenderung melemah.
Selain itu dapat diperhatikan emiten sektor konsumer yang memiliki rekam jejak pembagian dividen dengan yield yang menarik.
Banyak Emiten Indonesia Keluar dari Indeks MSCI, OJK: Fenomena Global
Dalam menyikapi data IKK April 2026 di Tengah kondisi makro yang tidak menentu, strategi investasi jangka menengah hingga panjang perlu sektor konsumer difokuskan pada emiten yang memiliki daya tahan margin terjaga seperti AMRT,MIDI,CMRY dan ULTJ maupun kemampuan untuk ekspor seperti MYOR.