Konflik Timur Tengah Tekan Pasar, Tapi Prospek Harga Emas Masih Bullish

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bisa berdampak langsung terhadap pergerakan harga emas global.

Penutupan Selat Hormuz dan pembatasan kapal komersial di kawasan tersebut dinilai berpotensi mengganggu jalur perdagangan global, serta memicu lonjakan permintaan emas untuk aset lindung nilai (hedging) utama terhadap inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi.

Terkait hal ini, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan eskalasi konflik biasanya memicu sentimen risk-off di pasar global. Kondisi ini pada umumnya memberikan tekanan terhadap berbagai komoditas global.

Hasil Survei PwC: 75% CEO Indonesia Siap Ekspansi ke Luar Bisnis Inti

Di sisi lain, Lukman melihat emas masih berada dalam tren bullish jangka panjang. Logam mulia ini dinilai tetap menjadi aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global.

Melansir Trading Economics pada Senin (2/3) pukul 16.15 WIB, harga emas di pasar spot menyentuh US$ 5.396 per ons troi atau naik 2,24% harian dan 9,31% sebulan terakhir. Padahal, di awal bulan lalu, yakni 2 Februari 2026, harga emas global sempat merongsok ke level US$ 4.504 per ons troi.

Ia mengatakan, situasi geopolitik di Timur Tengah berpotensi memberikan dorongan harga emas dalam jangka pendek hingga menengah.

“Namun, penggerak utama dalam jangka panjang tetap berasal dari permintaan bank-bank sentral dunia,” jelas Lukman kepada Kontan, Senin (2/3/2026).

Menurut Lukman, selama tren akumulasi emas oleh bank sentral berlanjut, prospek kenaikan harga emas masih terbuka. Untuk semester I-2026, ia memperkirakan harga emas berpotensi bergerak di kisaran US$ 5.600 – US$ 5.700 per ons troi.

Selat Hormuz Terancam, Harga Emas Berpeluang Cetak ATH Baru