Konflik Trump vs Powell kian panas, bos The Fed ungkap ancaman pidana

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengungkapkan bank sentral AS terancam dakwaan pidana oleh Departemen Kehakiman AS (DOJ).

Hal tersebut menandai eskalasi tajam tekanan yang dilakukan Presiden Donald Trump terhadap independensi The Fed.

Dalam pernyataan tertulis dan video yang dikutip dari Bloomberg pada Senin (12/1/2026), Powell menyatakan The Fed menerima surat panggilan dewan juri (grand jury subpoenas) dari Departemen Kehakiman AS (DOJ) 

: Trump Bakal Tetapkan Bos Baru The Fed Pengganti Jerome Powell Bulan Ini

Dia menjelaskan, panggilan tersebut berkaitan dengan kesaksiannya di Kongres pada Juni lalu mengenai proyek renovasi kantor pusat The Fed. Namun, dia menegaskan langkah itu harus dilihat dalam konteks tekanan dan ancaman berkelanjutan dari pemerintah.

“Ancaman dakwaan pidana ini merupakan konsekuensi dari keputusan Federal Reserve menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik demi kepentingan publik, bukan mengikuti preferensi presiden,” ujar Powell.

: : Mekanisme Pemilihan Ketua The Fed jelang Jerome Powell Lengser: Proses, Masa Jabatan, hingga Gaji

Menurutnya, isu ini menyentuh inti independensi kebijakan moneter AS. “Ini tentang apakah The Fed dapat terus menetapkan suku bunga berdasarkan bukti dan kondisi ekonomi, atau justru diarahkan oleh tekanan dan intimidasi politik,” katanya.

Dalam wawancara dengan NBC News pada Minggu (11/1/2026), Trump membantah mengetahui adanya penyelidikan DOJ terhadap bank sentral.

: : Kapan Bos Baru The Fed Pengganti Jerome Powell Diumumkan? Begini Kata Trump

Pasar merespons cepat kabar tersebut. Dolar AS melemah terhadap seluruh mata uang utama, sementara harga emas melanjutkan reli hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Kontrak berjangka indeks S&P 500 turun 0,3%.

Powell mengatakan The Fed menerima surat panggilan tersebut pada Jumat. Langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya ini memperuncing konflik berkepanjangan antara Trump dan Powell. Trump selama ini mendesak pemangkasan suku bunga secara agresif untuk meningkatkan keterjangkauan perumahan dan menekan biaya utang pemerintah.

Trump juga berulang kali melontarkan wacana pemecatan Powell dan bahkan berupaya mencopot Gubernur The Fed Lisa Cook. Mahkamah Agung AS dijadwalkan membahas perkara Cook akhir bulan ini.

Pada bulan lalu, para pembuat kebijakan The Fed memangkas suku bunga acuan ke kisaran 3,5%–3,75%, menjadi pemangkasan ketiga berturut-turut masing-masing 25 basis poin, setelah menahan suku bunga stabil sepanjang sebagian besar 2025. Namun, pejabat The Fed menegaskan belum terburu-buru melanjutkan pelonggaran sebelum memperoleh data inflasi dan ketenagakerjaan terbaru.

Rapat kebijakan berikutnya dijadwalkan pada 27–28 Januari, dengan pasar berjangka memproyeksikan peluang kecil adanya perubahan suku bunga.

Masa Depan Powell

Dalam pernyataannya, Powell menegaskan akan terus menjalankan tugasnya dengan integritas dan komitmen melayani rakyat Amerika.

Powell pertama kali ditunjuk sebagai Ketua The Fed pada 2018 oleh Trump. Masa jabatannya sebagai ketua berakhir pada Mei mendatang, sementara masa tugasnya sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed baru berakhir pada 2028. 

Hingga kini, Powell belum menyatakan apakah akan mundur pada Mei atau tetap bertahan sebagai gubernur.

Trump menyatakan telah memilih kandidat pengganti Powell, meski belum mengumumkan namanya. Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett disebut-sebut sebagai kandidat terdepan.

Senator Republik Thom Tillis, anggota Komite Perbankan Senat yang mengawasi The Fed, menyatakan dukungan terhadap independensi bank sentral. Ia menegaskan akan menolak konfirmasi calon pejabat The Fed mana pun—termasuk ketua baru—hingga persoalan hukum ini tuntas.

“Jika masih ada keraguan bahwa para penasihat di pemerintahan Trump berupaya mengakhiri independensi Federal Reserve, kini keraguan itu seharusnya sirna,” ujar Tillis.

Penyelidikan tersebut ditangani Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Columbia. Jaksa Agung Pam Bondi dilaporkan menginstruksikan jaksa federal untuk menelusuri potensi penyalahgunaan dana publik.

Sorotan Proyek Renovasi

Pemerintahan Trump sejak musim panas lalu meningkatkan pengawasan terhadap proyek renovasi dua gedung bersejarah The Fed, menyusul lonjakan biaya. Dokumen anggaran menunjukkan estimasi biaya proyek meningkat menjadi US$2,5 miliar pada 2025, dari US$1,9 miliar pada 2023.

The Fed menyebut lonjakan biaya dipicu perbedaan estimasi awal dengan realisasi biaya material, peralatan, dan tenaga kerja, serta temuan tak terduga seperti kontaminasi bahan beracun.

Dalam kesaksian di Kongres, Powell membantah laporan media dan kritik pejabat pemerintah yang menyebut proyek tersebut memiliki fitur mewah, seperti ruang makan VIP dan taman atap. Dia menegaskan sejumlah fitur awal telah dihapus dari rencana.

Sejumlah pejabat dan anggota parlemen Partai Republik menuding Powell memberikan keterangan tidak akurat. Bahkan, Trump pada akhir Desember menyatakan mempertimbangkan gugatan atas dasar ketidakcakapan serius terkait proyek tersebut.

Menurut undang-undang pembentukan The Fed, presiden hanya dapat memberhentikan anggota Dewan Gubernur dengan alasan tertentu, seperti kelalaian tugas atau pelanggaran berat.

“Ini terdengar seperti upaya balas dendam ala Trump untuk menekan Powell agar mundur pada Mei. Jika Powell tetap bertahan sebagai gubernur, itu akan menyulitkan Trump membentuk mayoritas di The Fed,” ujar Mark Spindel, penulis The Myth of Independence: How Congress Governs the Federal Reserve.