
Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah katalis dinilai bakal mampu mendorong penguatan jangka panjang saham-saham yang royal dalam membagikan dividen. Selain prospek pertumbuhan bisnis, katalis makroekonomi disebut turut membawa sentimen positif bagi saham-saham yang tergabung dalam IDX High Dividend 20.
Adapun sepanjang 2025, IDX High Dividend 20 menampilkan kinerja yang tak berdaya. Penguatan indeks hanya terjadi saat momentum pembagian dividen, seperti Mei dan Oktober. Meskipun begitu, kinerjanya tetap masih di bawah pembukaan perdagangan 2025.
Memasuki 2026, kalangan analis menekankan prospek pertumbuhan saham-saham dalam indeks ini. BRI Danareksa Sekuritas menilai, peluang menguatnya emiten royal dividen pada tahun ini, cenderung besar.
: Kalah Pamor dari SRBI, Kinerja Indeks Saham Royal Dividen Tertekan Sepanjang 2025
Sentimen makroekonomi seperti kebijakan pelonggaran moneter global dan domestik dinilai bakal menurunkan biaya modal dan meningkatkan profitabilitas emiten di pasar saham Tanah Air.
“Pertumbuhan laba korporasi yang diproyeksikan pulih di kisaran 5% hingga 11% pada periode 2025-2026 memberikan landasan fundamental yang kuat bagi apresiasi harga saham dalam jangka menengah,” kata Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, dikutip Selasa (6/1/2026).
: : Kinerja 2025 Lesu, Cek Prospek Indeks Saham Royal Dividen UNTR, TLKM, ASII Cs
Menurutnya, konsistensi emiten dalam mempertahankan dividend payout ratio (DPR) di kisaran 40–80% dapat menjadi salah satu daya tarik yang mampu menahan minat investor secara jangka panjang di saham tersebut.
Selain itu, Abida juga memproyeksi pertumbuhan laba per saham (EPS) yang solid pada tahun ini, sehingga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan stabil bagi emiten-emiten terkait.
: : Utak-atik Pemegang Saham Alamtri (ADRO) Jelang Dividen Interim Cair
“Selain imbal hasil dividen rata-rata yang kompetitif sebesar 7,68%, fokus perusahaan pada inovasi jangka panjang dan model bisnis berkelanjutan menjadi kriteria krusial yang dicari oleh investor institusi,” tambahnya.
Senada, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menilai, daya tarik dividen tanpa kinerja fundamental yang solid, tidak akan mampu mendorong investasi jangka panjang bagi investor di emiten terkait.
Menurutnya, investor cenderung melakukan pertimbangan antara waktu yang telah mereka curahkan untuk berinvestasi secara jangka panjang dibandingkankan besaran dividen yang dibagikan.
Dengan begitu, penting bagi emiten untuk memastikan pemulihan kinerja keuangan hingga menghasilkan laba bersih yang positif untuk memberikan dividen yang optimal dan sepadan dengan waktu yang telah dicurahkan investor dalam jangka panjang.
“Beberapa kasus investor membeli saham dan hold selama lima tahun, tetapi ternyata dividen yang diberikan setiap tahunnya cenderung tidak sepadan dengan risiko penurunan sahamnya,” katanya, Selasa (6/1/2026).
Beberapa emiten perbankan misalnya, seperti BMRI, BBRI, BBCA, atau BBNI dinilai kurang optimal dalam membagikan dividen lantaran kinerja fundamental yang tumbuh dengan lambat. Sementara itu, saham dari sektor energi seperti PTBA, ITMG, atau ADRO juga dinilai tengah dibayangi penurunan kinerja keuangan.
“Adapun secara keseluruhan, kinerja keuangan emiten yang masuk di indeks ini cenderung masih melambat sehingga potensi dividen per share yang dibagikan diperkirakan kurang optimal,” katanya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.