Mengukur likuiditas saham big caps BREN & PGEO cs saat free float dinaikkan

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Saham-saham emiten dengan dengan free float di bawah 15% dan mempunyai kapitalisasi pasar terbesar bakal menjadi prioritas pertama Bursa Efek Indonesia (BEI) mengimplementasi kenaikan free float bertahap. Berdasarkan kriteria itu, ada BREN, TPIA sampai PGEO.

Apabila emiten big caps menambah free float, posri saham publik mereka di pasar akan bertambah. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, seberapa kuat demand pasar menyerap tambahan saham tersebut.

Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menjelaskan bahwa demand pasar bisa kita ukur lewat average daily trading value (ADTV) atau rata-rata nilai transaksi harian masing-masing saham.

: OJK Harap Calon Emiten Bisa Sesuaikan Free Float Ikuti Aturan Baru

Berdasarkan data yang diolah Bisnis, terdapat 10 besar emiten ber-free float di bawah 15% dengan market cap terbesar per 2 Februari 2026, yakni berturut-turut dari urutan pertama adalah BREN, TPIA, BNLI, CDIA, MPRO, BRIS, HMSP, ADMR, PGUN sampai PGEO.

Harry menghitung bahwa berdasarkan data penutupan 5 Februari 2026, 1% market cap BREN, atau sekitar Rp11 triliun baru berpotensi terserap dalam kurang lebih 34 hari perdagangan, di mana ADTV BREN dalam 6 bulan sebesar Rp329 miliar. Sementara itu, 1% market cap TPIA diperkirakan baru terserap dalam kurang lebih 82 hari.

: : Aturan Free Float Baru BEI, Sekuritas Masih Kaji Dampaknya ke Pipeline IPO

“Untuk saham-saham lain, proses penyerapan relatif lebih cepat, misalnya CDIA kurang lebih 3 hari, PGEO sekitar 6 hari, dan ADMR kurang lebih selama 7 hari,” ujarnya pada Bisnis, Kamis (5/2/2026).

Sebaliknya, Harry menilai untuk saham BNLI dan MPRO, jika kita bandingkan nilai 1% market cap terhadap ADTV, hasilnya menunjukkan kebutuhan waktu lebih dari 1.000 hari perdagangan. Perhitungan ini dengan asumsi ADTV ke depan kurang lebih tetap.

: : BEI Revisi Syarat Pencatatan IPO dan Free Float di Papan Utama

Ihwal rekomendasi, di antara 10 emiten yang diprediksi punya peluang paling besar segera menambah porsi saham publiknya itu, Harry melihat BRIS sebagai salah satu opsi yang menarik. Menurutnya BRIS punya posisi strategis seiring dengan berkembangnya bisnis bullion bank, ditambah dengan adanya tren kenaikan harga emas.

Adapun, ketika otoritas bursa sedang mendorong emiten untuk menambah porsi saham publik mereka, emiten terafiliasi Prajogo Pangestu, BREN dan TPIA  justru mengumumkan rencana aksi buyback.

Harry menilai, alasan BREN dan TPIA melakukan buyback tersebut adalah karena manajemen menilai harga saham sudah berada di level undervalued, terutama setelah tekanan pasar pasca peringatan dari MSCI pekan lalu. 

“Dalam kondisi seperti ini, buyback dipandang sebagai momentum untuk menyerap saham saat valuasi dinilai lebih murah, sekaligus membantu menstabilkan pergerakan harga,” tandasnya.

10 Emiten Big Caps dengan Free Float di Bawah 15% No. Kode Saham Free Float (%) Market Cap (Rp) 1 BREN 12,299 1.113.770.281.500.000 2 TPIA 10,673 510.418.116.090.000 3 BNLI 10,879 144.725.438.080.000 4 CDIA 9,972 124.829.374.700.000 5 MPRO 11,163 109.367.500.000.000 6 BRIS 9,895 103.790.835.310.500 7 HMSP 7,561 94.217.642.289.000 8 ADMR 11,969 75.632.313.275.000 9 PGUN 7,624 48.197.930.608.800 10 PGEO 10,905 46.833.655.003.520

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.