
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Minat investor terhadap reksadana berbasis dolar Amerika Serikat (AS) dinilai masih akan berlanjut seiring tren pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang bersifat jangka panjang.
Berdasarkan data Infovesta, reksadana dolar AS dengan pertumbuhan asset under management (AUM) tertinggi ditempati BNP Paribas Prima USD kategori pendapatan tetap. Produk tersebut mencatat pertumbuhan AUM sebesar US$ 106,53 juta atau naik 82,77% sejak Desember 2025 – April 2026.
Head Equity BNP Paribas Asset Management, Amica Darmawan mengatakan pertumbuhan AUM tersebut didorong oleh kombinasi antara arus masuk dana baru dan kinerja nilai aset, termasuk efek penguatan dolar AS.
Rupiah Melemah Tajam Rp 17.529, Lonjakan Harga Minyak Jadi Pemicu
Hal ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap reksadana USD sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio.
Menurutnya, pelemahan rupiah terhadap dolar AS saat ini bukan sekadar fenomena jangka pendek, melainkan tren struktural yang berlangsung dalam jangka panjang.
“Selain berfungsi sebagai lindung nilai terhadap risiko nilai tukar, aset berbasis dolar AS juga memberi akses ke pasar global dengan peluang pertumbuhan yang lebih luas dibandingkan aset domestik,” ujar Amica kepada Kontan, Selasa (12/5).
Ia menambahkan, salah satu faktor utama yang mendorong meningkatnya minat investor terhadap reksadana dolar AS adalah pelemahan rupiah yang berkelanjutan serta keterbatasan eksposur pasar domestik terhadap sektor-sektor dengan pertumbuhan struktural tinggi.
Amica menilai reksadana dolar AS memberikan akses ke berbagai tema global, termasuk sektor teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang saat ini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan pasar global.
Di sisi lain, reksadana pendapatan tetap dan pasar uang berbasis dolar AS juga dinilai semakin diminati karena menawarkan volatilitas yang relatif lebih rendah.
“Dikombinasikan dengan penguatan dolar AS, instrumen ini dipersepsikan sebagai pilihan defensif yang menarik di tengah ketidakpastian global,” kata Amica.
Penerbitan Obligasi Korporasi Diproyeksi Masih Solid, Ini Alasannya
Untuk prospek ke depan, Amica menilai reksadana saham global berbasis dolar AS masih berpotensi mencatatkan kinerja kompetitif dalam jangka menengah hingga panjang, terutama produk yang memiliki eksposur pada tema AI, baik dari sisi hardware maupun software.
Meski demikian, ia mengingatkan investor tetap perlu memahami risiko investasi pada reksadana dolar AS, khususnya produk saham global yang memiliki volatilitas lebih tinggi dibandingkan instrumen pendapatan tetap atau pasar uang.
Menurutnya, risiko tersebut dapat dimitigasi melalui diversifikasi lintas sektor maupun geografis.
Amica juga mengingatkan investor untuk mencermati sejumlah indikator global sebelum berinvestasi di reksadana dolar AS dalam beberapa bulan mendatang.
Beberapa di antaranya yakni perkembangan geopolitik global, arah kebijakan suku bunga bank sentral, pergerakan yield obligasi, hingga tren inflasi global.
“Faktor-faktor tersebut sangat memengaruhi pergerakan pasar keuangan global dan kinerja aset berbasis dolar AS,” ujar Amica.