
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks saham unggulan LQ45 diproyeksikan kembali menjadi primadona bagi investor institusi sepanjang 2026. Dominasi emiten perbankan kelas kakap serta katalis positif dari sektor konsumer diyakini bakal menjadi mesin utama penggerak indeks LQ45.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menyebutkan bahwa emiten perbankan berkapitalisasi pasar besar, seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI diyakini akan kembali menjadi lokomotif indeks.
“Sektor perbankan didukung oleh pemulihan aliran modal masuk asing dan kebijakan dividen yang kuat. Bahkan, imbal hasil dividen BBRI diprediksi mampu mencapai angka 9%,” ungkap Abida, Selasa (6/1/2026).
: IHSG Bidik Level 10.000, Saham LQ45 Diproyeksi Rebound 2026
Selain perbankan, Abida menuturkan bahwa sektor konsumer dan peternakan diperkirakan bakal memberikan kontribusi signifikan. Emiten seperti ICBP, INDF, CPIN, dan JPFA diprediksi menjadi penopang utama.
Kinerja sektor ini didorong oleh lonjakan permintaan yang bersumber dari realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung pemerintah.
Selain itu, melandainya harga bahan baku komoditas global berpotensi mempertebal margin keuntungan emiten-emiten tersebut tahun ini.
Di sisi lain, ASII juga dijagokan akan menyokong indeks. Penguatan saham emiten otomotif ini didorong oleh peningkatan penetrasi kendaraan listrik, serta keberhasilan strategi diversifikasi bisnis perusahaan ke sektor mineral dan kesehatan yang dinilai lebih defensif terhadap gejolak pasar.
Berdasarkan analisis fundamental tersebut, BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk sejumlah emiten blue chip dengan target harga yang mencerminkan potensi kenaikan atau upside signifikan.
Abida menyatakan BBCA memiliki target harga Rp10.800 per saham dan target BMRI mencapai Rp5.500. Adapun ASII memiliki target price di level Rp7.450, sementara TLKM diproyeksikan tembus Rp4.000 seiring efisiensi operasional.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.