
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan rupiah kembali berada dalam tekanan seiring meningkatnya ketidakpastian global setelah negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah tipis 1 poin ke level Rp 17.105 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai sentimen utama yang menekan rupiah berasal dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu sikap risk-off di pasar keuangan global.
“Meski indeks dolar AS dan harga minyak sempat terkoreksi, ketidakpastian yang tinggi masih akan membuat pergerakan rupiah bergejolak,” ujar Lukman kepada Kontan, Senin (13/4/2026).
Rupiah Melemah ke Rp 17.105 Usai Negosiasi AS–Iran Gagal, Ini Faktor Penekan Domestik
Ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut dalam jangka pendek sehingga peran Bank Indonesia (BI) melalui intervensi pasar dinilai penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Sementara itu, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menambahkan faktor domestik juga turut memengaruhi pergerakan rupiah, meski dampaknya relatif terbatas dalam jangka pendek.
Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% pada 2026, sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,4%.
Rupiah Tertekan Imbas Kebuntuan AS–Iran, Ini Strategi Investor Hadapi Volatilitas
Namun, ADB mengingatkan bahwa ketegangan geopolitik global dan volatilitas harga energi tetap menjadi risiko bagi stabilitas ekonomi.
Selain itu, kebijakan suku bunga global yang masih ketat berpotensi memicu volatilitas aliran modal di pasar keuangan domestik.
Untuk perdagangan Selasa (14/4/2026), Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.050 hingga Rp 17.150 per dolar AS. Sementara itu, Ibrahim memproyeksikan rentang pergerakan di level Rp 17.100 hingga Rp 17.150 per dolar AS.
Rupiah Ditutup Melemah Menjadi Rp 17.105, Ini Proyeksi Selasa (14/4)