
Pasar saham Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan tajam pada penutupan perdagangan Jumat (27/3), dengan aksi jual besar-besaran menyeret tiga indeks utama ke level terendah dalam lebih dari tujuh bulan.
Mengutip Reuters pada Sabtu (28/3), indeks Dow Jones Industrial Average turun 793,47 poin atau 1,73 persen ke level 45.166,64. Sementara itu, S&P 500 melemah 108,31 poin atau 1,67 persen ke 6.368,85, dan Nasdaq Composite anjlok 459,72 poin atau 2,15 persen ke 20.948,36.
Ketiga indeks mencatat penurunan selama lima minggu berturut-turut, yang menjadi tren terpanjang dalam hampir empat tahun.
Dow kini telah turun lebih dari 10 persen dari rekor penutupan tertinggi pada 10 Februari lalu, sehingga resmi masuk ke wilayah koreksi. Sebelumnya, Nasdaq juga telah lebih dulu masuk zona koreksi, disusul oleh Russell 2000 yang mengkonfirmasi kondisi serupa pekan lalu.
Ketegangan pasar dipicu oleh perang di Iran yang belum mereda. Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum tambahan 10 hari kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi penghancuran fasilitas energi. Namun, Iran menolak proposal tersebut.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan AS dapat mencapai tujuannya tanpa penggunaan pasukan darat dan memperkirakan operasi akan selesai dalam beberapa minggu, meskipun terdapat tambahan pengerahan pasukan ke kawasan.
Lonjakan harga energi turut memperburuk sentimen pasar. Pada Jumat (27/3), harga minyak mentah AS naik 5,46 persen ke USD 99,64 per barel, sementara Brent menguat 4,22 persen ke USD 112,57 per barel.
Kenaikan harga minyak, bersama dengan komoditas lain seperti pupuk, memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi. Ini berdampak pada ekspektasi kebijakan moneter, di mana pelaku pasar kini tak lagi memperkirakan adanya penurunan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang sekitar 25 persen untuk kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin (bps) pada pertemuan The Fed bulan Oktober. Sebelumnya, sebelum konflik memanas, pasar memperkirakan akan ada dua kali pemangkasan suku bunga.
Tekanan terbesar datang dari saham-saham berkapitalisasi besar. Nvidia turun 2,2 persen sebagai penekan utama indeks S&P 500, sementara Amazon merosot 4 persen. Sektor perangkat lunak juga tertekan, dengan indeks S&P 500 software and services ditutup pada level terendah sejak 6 November 2023.
Sektor konsumen diskresioner jadi yang berkinerja terburuk di antara 11 sektor utama S&P 500, turun 3,1 persen. Saham operator kapal pesiar Carnival merosot 4,3 persen setelah memangkas proyeksi laba tahunan, sementara Norwegian Cruise Line anjlok 6,9 persen.
Dari sisi data pasar, saham yang turun jauh lebih banyak dibandingkan yang naik, dengan rasio 3,38 banding 1 di NYSE dan 3,62 banding 1 di Nasdaq. S&P 500 mencatat 22 saham mencetak level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 27 saham mencetak level terendah baru.
Sementara itu, Nasdaq mencatat 25 saham mencapai level tertinggi baru dan 355 saham menyentuh level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS tercatat mencapai 18,13 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20,4 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Selain itu, sentimen konsumen AS juga melemah ke level terendah dalam tiga bulan pada Maret, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi di tengah ketidakpastian global.