
Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) telah mendapatkan restu dari pemegang saham untuk menjual aset. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) ZATA yang dilaksanakan pada Rabu (18/2/2026) menyatakan mayoritas atau sebanyak 5,84 juta saham telah sepakat menjual aset.
Sebelumnya, manajemen ZATA dalam publik ekspose menjelaskan jika pihaknya akan menjual aset berupa tanah dan bangunan. Namun ZATA menyebut, transaksi akan dilakukan dengan harga di bawah pasar wajar. Namun menurut perusahaan ini, prioritas utama saat ini adalah kecepatan realisasi kas (speed to cash) dibanding menunggu valuasi pasar yang ideal namun tidak likuid.
Nantinya, dana hasil penjualan aset akan digunakan untuk menurunkan kewajiban finansial alias utang bank untuk menjamin kelangsungan usaha (going concern).
Dalam Sepekan Rata-rata Frekuensi Transaksi Harian BEI Melonjak 11,99%
Kondisi ini menurut manajemen ZATA diambil untuk memperbaiki arus kas masa depan meski harus mengalami kerugian akuntansi (accounting loss) untuk saat ini.
Namun manajamen dalam keterbukaan informasi materi hasil publik ekspose, ZATA menegaskan langkah yang diambil saat ini bukan didorong oleh kebutuhan speed to cash akibat kondisi likuiditas yang kritis, melainkan sebagai upaya pengoptimalan modal kerja untuk mendukung operasional perusahaan.
“Hasil penjualan aset tetap akan digunakan untuk pembayaran kewajiban kepada bank, sehingga memberikan ruang yang lebih optimal dalam pengelolaan modal kerja bulanan ZATA,” papar ZATA dalam keterbukaan informasi di BEI pada 27 Januari 2026.
Menurut manajemen ZATA, aset tanah dan bangunan yang akan dijual merupakan aset yang dinilai tidak produktif secara optimal. Meskipun aset tersebut masih digunakan, namun menurut mereka tidak menghasilkan penjualan secara langsung dan memiliki beban biaya operasional harian yang cukup tinggi, sementara tingkat pemanfaatannya hanya sekitar 30% dari total luas bangunan.
Samudera Indonesia (SMDR) Siap Ekspansi, Bangun Terminal Baru Hingga Perluas Jaringan
Penjualan aset ini tidak ditujukan untuk menjamin keberlangsungan operasional hingga akhir 2026, mengingat ZATA tidak berada dalam kondisi likuiditas yang kritis, melainkan untuk mengoptimalkan kinerja operasional. Hal ini sejalan dengan kondisi persaingan yang semakin ketat, dimana ZATA perlu memiliki keunggulan strategis, salah satunya melalui efisiensi biaya agar dapat bersaing secara lebih optimal dengan para kompetitor.
Hingga 30 September 2025, total aset ZATA mencapai Rp 680,94 miliar dengan nilai ekuitas sebesar Rp 525,69 miliar. ZATA memiliki kewajiban dengan total nilai Rp 157,25 miliar. Di mana utang bank sebesar Rp 37,84 miliar.
Sementara dari sisi kinerja, pendapatan ZATA turun 7,8% secara tahunan menjadi Rp 158,08 miliar. Sedangkan laba bruto juga turun 13,54% secara tahunan menjadi Rp 66,66 miliar. Laba bersih emiten yang bergerak di bidang tekstil pakaian ini melorot 15,35% secara tahunan menjadi Rp 1,93 miliar.
Jumat (20/2/2026) harga saham ZATA menanjak 34,71% ke level Rp 163 per saham.