
Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menyatakan tengah mencermati dampak perang yang bergulir antara Iran dan AS-Israel yang belakangan ini pecah dan menghebohkan dunia. BI memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan bersinergi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah gonjang-ganjing ketidakpastian global.
Deputi Gubernur BI Aida S Budiman menuturkan, BI memandang pertumbuhan ekonomi global terus bergerak dinamis dan penuh ketidakpastian. Secara fundamental, BI melihat kondisi pertumbuhan ekonomi dunia masih dalam tren perlambatan.
“Sebelumnya kita masih melihat bagaimana sih Fed Fund Rate (FFR) itu jadi turun atau tidak, kapan turunnya. Tapi sekarang ditambah lagi dengan kejadian yang baru, yaitu tensi geopolitik perang antara AS bersama Israel melawan Iran. Bank Indonesia akan terus melakukan monitoring tentang indikator-indikator terkini,” kata Aida, dikutip Selasa (3/3/2026).
Aida menerangkan, ada tiga channel yang menjadi perhatian BI dalam melihat perkembangan indikator terkini. Pertama, seputar harga komoditas, terutama harga minyak dunia yang diprediksi mengalami lonjakan akibat perang di Timur Tengah.
“Kita sudah mulai melihat bagaimana perkembangan harga minyak, harga emas, dan nanti juga penting untuk melihat harga pangan. Karena kalau harga minyaknya mengalami peningkatan, tentunya ada (biaya) transportasi dan lain-lain,” ujarnya.
Kedua, yakni pasar keuangan. Aida menegaskan, BI akan terus melakukan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dengan melakukan intervensi di tengah tingginya risiko global. “Ini pun kami lihat dan monitor dengan baik, seperti yang langsung adalah tentang nilai tukar,” ujarnya.
BI dipastikan akan tetap hadir di pasar melalui intervensi, baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga.
Ketiga, volume perdagangan. Sebab, channel tersebut dipastikan akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan data ekonomi lainnya.
“Tapi komitmen Bank Indonesia tetap menjaga stabilitas, itu saya garisbawahi. Dan kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga soal inflasi. Nanti kami akan menceritakan tentang respons kebijakan yang lebih utuh lagi pada saat RDG (Rapat Dewan Gubernur) bulanan,” terangnya.
CORE Ingatkan Konflik AS-Iran Bisa Bikin Defisit APBN
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 bisa melebar hingga Rp 200 triliun akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Menurut Yusuf, dampak eskalasi konflik di Timur Tengah saat ini terhadap APBN bisa datang dari dua kanal utama, yaitu kenaikan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah. “Keduanya memiliki konsekuensi langsung terhadap belanja negara, khususnya melalui subsidi energi dan beban pembiayaan,” katanya di Jakarta, Senin (2/3/2026) lalu.
Dari sisi harga minyak, jelas Yusuf, dampak konflik terhadap APBN cenderung negatif secara neto.
Kenaikan harga minyak memang akan meningkatkan pendapatan negara, terutama dari sektor migas dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Namun, kenaikan belanja negara jauh lebih besar karena pemerintah harus menanggung tambahan subsidi dan kompensasi energi.
Berdasarkan simulasi APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel meningkatkan pendapatan negara sekitar Rp 3,5 triliun, tetapi pada saat yang sama meningkatkan belanja negara sekitar Rp 10,3 triliun.
Artinya, secara bersih, defisit dapat melebar sekitar Rp 6,8 triliun untuk setiap kenaikan 1 dolar AS per barel. “Dalam skenario moderat, ketika harga minyak naik sekitar 15 dolar AS per barel, defisit APBN berpotensi melebar lebih dari Rp 100 triliun. Bahkan dalam skenario yang lebih berat, pelebaran defisit bisa melampaui Rp 200 triliun,” ujar Yusuf.
Selain harga minyak, pelemahan rupiah juga memberikan tekanan tambahan terhadap APBN. Konflik geopolitik biasanya memicu penguatan dolar AS karena investor mencari aset yang lebih aman sehingga rupiah cenderung melemah.
Pelemahan ini meningkatkan belanja negara, terutama untuk subsidi energi dan pembayaran kewajiban dalam valuta asing.
Yusuf memperkirakan setiap pelemahan rupiah sebesar Rp 100 per dolar AS dapat meningkatkan belanja negara sekitar Rp 6,1 triliun, sementara tambahan pendapatan hanya sekitar Rp 5,3 triliun. “Akibatnya, defisit tetap melebar sekitar Rp 0,8 triliun untuk setiap pelemahan Rp 100. Jika rupiah melemah hingga Rp 1.500, maka tambahan tekanan terhadap defisit bisa mencapai sekitar Rp 12 triliun,” tutur dia.