Peringatan S&P soal rating RI, begini strategi amankan portofolio saham

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Pasar saham domestik mulai memasuki fase krusial seiring dengan memburuknya sentimen eksternal menyusul S&P Global Ratings memperingatkan peningkatan risiko terhadap profil kredit Indonesia.

Sentimen tersebut menambah daftar revisi outlook negatif yang dilakukan Moody’s Ratings serta sorotan isu investabilitas dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Adapun peringatan S&P muncul usai rasio pembayaran bunga utang pemerintah disebut telah melampaui ambang batas 15% dari penerimaan negara.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan bahwa peringatan tersebut berpotensi memicu koreksi jangka pendek pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat efek kejut pasar atau market shock.

: Pasar Modal Disorot MSCI dan Moody’s, Rektor Paramadina Desak Reformasi Tata Kelola

“Dalam jangka pendek bisa memicu koreksi karena pasar akan terkena syok. Namun, untuk jangka panjang, hal ini lebih bersifat noise karena investor akan tetap fokus pada level rating-nya dibandingkan sekadar prospek,” pungkas Wafi saat dihubungi Bisnis, Jumat (27/2/2026).

Meski demikian, dia memperingatkan jika penurunan peringkat benar-benar terjadi, dampak tersebut akan menjadi katalis negatif untuk jangka panjang. 

Hal itu dikarenakan biaya dana atau cost of fund akan naik tajam, sehingga berimbas langsung pada kenaikan imbal hasil obligasi domestik serta tekanan pada nilai tukar rupiah akibat aliran modal keluar secara masif.

Bagi emiten, kondisi ini akan sangat memukul perusahaan yang memiliki porsi utang dolar Amerika Serikat (AS) tinggi tanpa lindung nilai yang cukup. 

Wafi menyebutkan bahwa sektor infrastruktur, properti, dan manufaktur diprediksi akan kesulitan melakukan pembiayaan kembali utang, sementara margin laba akan tergerus oleh kenaikan beban bunga.

: : Moodys Pangkas Outlook Indonesia, Simak Dampaknya ke Lantai Bursa

“Valuasi bursa juga akan mengalami de-rating karena premi risiko berinvestasi di Indonesia mengalami peningkatan,” ucap Wafi.

Dia pun menilai bahwa posisi pasar saat ini baru merefleksikan risiko dari sentimen outlook negatif saja. Menurutnya, harga saham belum sepenuhnya mencerminkan valuasi jika penurunan peringkat kredit direalisasikan. 

Menghadapi risiko tersebut, Wafi menyarankan investor untuk menerapkan strategi overweight pada sektor defensif dan memperbesar porsi kas. Investor diminta tidak terlalu agresif mengakumulasi saham growth yang valuasinya sangat bergantung pada asumsi suku bunga rendah dan kemudahan kredit.

“Sebaiknya berlindung pada saham berfundamental solid yang memiliki free cash flow kuat, neraca dengan utang dolar minim, serta berada di industri yang tahan krisis seperti konsumer primer atau telekomunikasi. Selain itu, pilih emiten yang rajin membagikan dividen dengan yield tinggi,” tuturnya. 

 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.