
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok lebih dari 4 persen, menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Senin (18/5). Selain itu, Rupiah melemah. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
IHSG Ambles 4 Persen, Investor Asing Ramai-Ramai Tinggalkan Emerging Market
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Senin (18/5), anjlok 288,024 poin atau 4,28 persen ke level 6.435,295. Penurunan ini melibatkan 676 saham yang melemah, berbanding hanya 70 saham yang menguat.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa tekanan ini tidak hanya menimpa pasar saham Indonesia tetapi juga mayoritas negara berkembang, dipicu oleh ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan data inflasi AS yang terus naik ke level 3,8 persen year-on-year, mendorong investor global menarik dana dari emerging market ke aset berbasis dolar AS.
Selain itu, lonjakan harga minyak akibat tensi geopolitik yang masih tinggi turut memperparah kondisi. Penguatan dolar AS menyebabkan mata uang utama Asia melemah, memicu aksi profit taking di pasar saham emerging market seperti Indonesia.
Di tengah tekanan ini, Gunarto menyoroti beberapa sektor yang masih menarik seperti kesehatan, energi baru terbarukan, minyak dan gas, serta komoditas seperti kelapa sawit dan batu bara. Sektor pangan juga dinilai cukup defensif menghadapi volatilitas pasar.
Rupiah Kembali Melemah di Atas Rp 17.600 per Dolar AS
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS kembali tertekan, ditutup melemah 81,50 poin atau 0,47 persen ke level Rp 17.680 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg pukul 12.26 WIB. Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuabi menyebut pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait dampak pelemahan dolar bagi masyarakat desa turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Ibrahim menyoroti dampak penguatan dolar AS yang merembet ke sektor ekonomi, terutama kenaikan harga komoditas global dan tingginya impor energi, seperti kebutuhan minyak mentah Indonesia yang mencapai 1,5 juta barel per hari.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Muhammad Syarkawi Rauf, menambahkan bahwa pelemahan Rupiah lebih mencerminkan tingginya premi risiko atau risk premium Indonesia. Ia mengacu pada tingginya country risk premium Indonesia sebesar 2,46 persen (lebih tinggi dibanding Malaysia 1,55 persen dan Thailand 2,07 persen) dan equity risk premium mencapai 6,69 persen (lebih tinggi dibanding Malaysia 5,78 persen dan Thailand 6,30 persen).
Meskipun indikator fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan perbaikan, seperti pertumbuhan ekonomi 5,61 persen, tingginya persepsi risiko ini menjadi faktor utama depresiasi ekstrem Rupiah. Pemerintah dan Bank Indonesia didorong untuk memperkuat komunikasi kebijakan yang rasional dan teknokratis guna menurunkan persepsi risiko pasar serta menjaga independensi Bank Indonesia.