
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Sejumlah saham konglomerat tercatat ambrol seiring dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai hingga 3,06% pada sesi I perdagangan Jumat (24/4/2026).
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan penyebab pelemahan IHSG ini salah satunya akibat pasar yang masih memfaktorkan peningkatan ketegangan antara AS dan Iran sehingga menciptakan ketidakpastian terkait perundingan perdamaian di masa depan.
“Hal ini mendorong investor ritel beralih ke aset safe haven seperti dolar AS,” ujar Nafan, Jumat (24/4/2026).
: Target IHSG 7.500 pada 2026, HSBC Soroti Problem Rupiah hingga MSCI
Apalagi, lanjutnya, rupiah terpantau melemah sekitar 105 poin dan ditutup di kisaran Rp17.280.
Nafan juga menjelaskan di sisi lain, harga minyak Brent melonjak ke kisaran US$106 per barel akibat gangguan di Selat Hormuz.
: : IHSG Anjlok 3,06%, Sentimen MSCI dan Pelemahan Rupiah Jadi Biang Kerok
“Dengan Indonesia yang merupakan negara net importir minyak, kebutuhan dolar AS untuk impor energi meningkat tajam, sehingga secara langsung menekan kurs rupiah,” ucap Nafan.
Seiring dengan pelemahan IHSG yang mencapai hingga 3%, Nafan belum melihat adanya risiko trading halt dari pelemahan ini.
: : IHSG dan Rupiah Kompak Loyo, Kondisi Fiskal Negara Diuji
Sebagai informasi, sejumlah saham konglomerat tercatat melemah seperti BBCA milik Grup Djarum yang turun 5,45% ke level Rp6.075 per saham. Lalu BUMI milik Grup Bakrie dan Salim yang melemah 2,61% ke level Rp224 per saham, dan saham PTRO milik Prajogo Pangestu juga turun 8,10% ke level Rp5.675 per saham.
Demikian juga saham ENRG milik Grup Bakrie yang melemah 8,61% ke level Rp1.910 per saham, dan DEWA yang turun 4,47% ke level Rp492 per saham.
Saham BRPT milik Prajogo Pangestu juga ambrol 5,48% ke level Rp2.070 per saham, BREN turun 4,26% ke level Rp4.720, dan saham CUAN turun 5% ke level Rp1.330 per saham hingga pukul 13.45 WIB atau sesaat setelah pembukaan sesi II perdagangan hari ini.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.