
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Pasar keuangan global masih bergejolak dengan ketidakpastian yang semakin meningkat.
Dampak konflik AS-Israel dan Iran yang meletus sejak 28 Februari 2026 dan telah melumpuhkan Selat Hormuz, semakin meluas di tengah outlook ekonomi AS yang masih hawkish dengan tantangan kenaikan inflasi yang semakin nyata.
Terbaru, harga emas sempat mengalami penurunan signifikan yang mana anjlok lebih dari 20% dari rekor US$ 5.589 ke kisaran US$ 4.427 pada Jumat (27/3), dipicu penguatan dolar, kenaikan yield obligasi pasca-sikap hawkish The Fed, dan likuidasi masif di pasar derivatif.
Di tengah anomali harga emas tersebut, Analis Reku Fahmi Almuttaqin menilai Bitcoin menunjukkan ketahanan yang sulit diabaikan. Per hari ini, BTC masih diperdagangkan di kisaran US$ 66.000 atau naik 1,86% sebulan terakhir.
Prospek Kinerja Chandra Asri Pacific (TPIA) Bakal Lebih Menantang Tahun Ini
Dicatatnya sejak konflik dimulai 28 Februari lalu, performa harganya telah mengungguli emas sekitar 20%.
Kata Fahmi, koreksi emas yang dalam justru dipicu oleh faktor-faktor struktural, seperti penguatan dolar dan potensi berlanjutnya kenaikan yield yang menggerus daya tarik aset tanpa imbal hasil.
Meskipun Bitcoin juga mendapatkan tekanan tersebut, karakteristiknya yang borderless dan supply-nya yang terbatas secara algoritmik berpotensi mulai mengisi celah yang ditinggalkan emas di mata investor institusional.
“Kondisi ini juga turut menyoroti potensi Ethereum khususnya pasca peluncuran produk ETF ETHB BlackRock yang menawarkan imbal hasil staking kepada para investor pasar modal AS” ujar Fahmi dalam keterangannya, Jumat (27/3/2026).
Data institusional memperkuat narasi ini. Strategy (sebelumnya MicroStrategy) kini menggenggam 762.099 BTC, setara sekitar 3,6% dari total pasokan Bitcoin global.
Perusahaan tersebut sepanjang tahun ini telah menambah kepemilikan Bitcoin mereka secara lebih agresif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Katalis sentimen terbesar pekan ini datang dari Bernstein, manajer aset dengan AUM lebih dari US$ 800 miliar yang pada 24 Maret menegaskan Bitcoin kemungkinan besar telah menemukan titik terendahnya dan mempertahankan target akhir tahun di US$ 150.000, atau potensi kenaikan lebih dari 110% dari harga saat ini.
Dari sisi fundamental on-chain, tekanan suplai juga semakin nyata. Data Glassnode menunjukkan lebih dari 60% pasokan Bitcoin saat ini dipegang oleh long-term holders.
Pada sekitar 10 Maret lalu, Bitcoin juga mencapai milestone 20 juta BTC yang telah beredar, menyisakan hanya sekitar 1 juta BTC yang masih bisa ditambang selama 114 tahun ke depan.
“Kombinasi akumulasi institusional yang masih cukup agresif dan dinamika supply squeeze ini menciptakan fondasi yang semakin kokoh untuk pergerakan harga jangka panjang, meskipun tidak menghilangkan potensi volatilitas tinggi jangka pendek” tambah Fahmi.
Bagi investor di Indonesia, dinamika ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang nyata.
Sebagai net-importer minyak, kenaikan harga crude secara langsung menekan rupiah dan berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi, diperparah oleh potensi berlanjutnya penguatan dolar AS menyusul sikap hawkish The Fed.
Dalam konteks ini, Bitcoin menawarkan proposisi nilai yang semakin relevan: aset likuid global dengan supply cap tetap yang tidak terpengaruh kebijakan moneter negara mana pun.
Menurutnya, ketika inflasi menggerus daya beli mata uang domestik, eksposur terhadap aset seperti Bitcoin dapat menjadi salah satu strategi diversifikasi yang patut dipertimbangkan.
Harga Perak Dalam Fase Koreksi, Ini Skenario Pergerakannya