
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup bervariasi pada perdagangan Senin (8/6) waktu setempat setelah saham-saham semikonduktor bangkit dari aksi jual tajam pada Jumat. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump berupaya mempertahankan gencatan senjata di tengah aksi saling serang antara Iran dan Israel.
Indeks S&P 500 naik 0,30% dan ditutup di level 7.405,73. Sementara itu, Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi tumbuh 0,86% ke posisi 25.929,66. Berbeda dengan kedua indeks tersebut, Dow Jones Industrial Average turun 80,77 poin atau 0,16% ke level 50.786,01.
Direktur Investasi U.S. Bank Asset Management William Northey mengatakan pasar saat ini terus menimbang berbagai katalis positif dan risiko yang muncul secara bersamaan.
“Fundamental ekonomi Amerika Serikat masih cukup kuat, didukung oleh konsumsi masyarakat, belanja modal perusahaan, dan siklus pertumbuhan laba korporasi. Faktor-faktor tersebut sejauh ini masih lebih dominan dibandingkan risiko yang berasal dari konflik Timur Tengah,” ujarnya dikutip dari CNBC, Selasa (9/6).
Meski begitu, Northey mengingatkan konflik yang berkepanjangan berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan pada akhirnya mengganggu aktivitas ekonomi.
Menurut dia, sentimen geopolitik masih menjadi perhatian pasar setelah Iran meluncurkan serangan rudal pada Minggu. Aksi tersebut memunculkan kembali kekhawatiran mengenai stabilitas gencatan senjata antara Washington dan Teheran.
Ketegangan meningkat setelah Ketua Parlemen Iran Mohammed Baqer Qalibaf menilai blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat serta dugaan pelanggaran kesepakatan terkait Lebanon sebagai bentuk pelanggaran terhadap gencatan senjata.
Di tengah meningkatnya ketegangan, harga minyak dunia sempat melonjak setelah Israel melancarkan serangan besar terhadap sistem pertahanan strategis Iran sebagai respons atas serangan rudal Teheran. Namun, Trump mengatakan Israel dan Iran tengah mengupayakan gencatan senjata dan proses negosiasi tetap berjalan meski kedua pihak masih saling melancarkan serangan.
Trump sebelumnya juga mendesak kedua negara untuk segera menghentikan aksi militer. Tak lama kemudian, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan operasi militer terhadap Israel telah dihentikan. Meski demikian, Teheran memperingatkan akan kembali melakukan serangan apabila Israel melanjutkan operasi militernya di Lebanon.
Perkembangan tersebut membuat harga minyak memangkas sebagian penguatannya. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,84% dan ditutup di level US$91,30 per barel, sedangkan Brent menguat 1,25% menjadi US$94,25 per barel.
Selain perkembangan geopolitik, investor juga mulai mengalihkan perhatian pada dua agenda besar pekan ini, yakni rilis data inflasi Amerika Serikat dan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) SpaceX milik Elon Musk yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat.
IPO SpaceX diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Wall Street dan dinilai sebagai ujian penting bagi tingginya valuasi perusahaan-perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI).
Kepala Strategi Pasar Ritholtz Wealth Management Callie Cox mengatakan IPO berukuran jumbo kerap menjadi indikator puncak euforia pasar pada siklus sebelumnya.
“Penawaran saham berskala besar sering kali muncul pada fase puncak pasar. Karena itu, banyak investor tampak berhati-hati dan skeptis terhadap sinyal yang mungkin diberikan oleh IPO SpaceX,” kata Cox.