
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Direktur PT Astra International Tbk (ASII), Rudy, memberikan gambaran kinerja perusahaan pada kuartal I-2026.
Ia mengungkapkan terdapat dua lini bisnis yang mengalami tekanan sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, yakni sektor otomotif dan industri alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi (Heavy Equipment, Mining, Construction, and Energy/AHEMCE).
Rudy menjelaskan, tekanan pada segmen AHEMCE tidak terlepas dari adanya berbagai tantangan di industri pertambangan yang juga dirasakan pelaku usaha lain.
ASII, GOOD, HEAL, BULL Gelar RUPS, Simak Pergerakan Sahamnya Hari Ini Kamis (23/4)
Sementara itu, dari sisi otomotif, Rudy menilai kondisi pasar dalam dua tahun terakhir cenderung stagnan. Hingga kuartal I-2026, pertumbuhan masih terbatas atau relatif datar, di tengah persaingan yang semakin ketat.
“Ada dua tekanan dari sektor itu” ungkap Rudy dalam konferensi pers ASII, Kamis (23/4/2026).
Meski begitu, Astra masih mencatatkan sisi positif, terutama dari pilar jasa keuangan. Rudy menjelaskan, diversifikasi portofolio di sektor ini mampu menjadi penopang ketika kinerja otomotif melemah.
“Untuk pilar jasa keuangan kita melihat bahwa diversifikasi portofolio ini sangat membantu. Jadi saat pasar otomotif turun kita masih punya multiguna dalam bisnis kita sendiri sehingga itu cukup menopang. Kalau dikombinasi dengan keseluruhan Astra, nanti seminggu lagi kita akan disclose,” ujarnya.
MSCI Tunda Rebalancing Indonesia, Momentum Uji dan Tangkap Peluang Pasar
Lebih lanjut, Rudy menilai prospek kinerja Astra sepanjang 2026 akan lebih dinamis. Rudy menjelaskan, secara umum pasar otomotif diperkirakan masih berada di kisaran 800 ribu unit untuk mobil, sementara sepeda motor di level sekitar 6,4 juta–6,5 juta unit, mengacu pada kinerja hingga kuartal I-2026.
Di luar sektor otomotif, untuk komoditas seperti crude palm oil (CPO), harga dinilai masih cukup menarik. Namun demikian, terdapat dua variabel utama yang mempengaruhi kinerja, yakni harga dan volume, yang membuat pertumbuhan tidak sepenuhnya mencerminkan kenaikan harga.
“Jadi kita perlu waktu yang lebih panjang lagi untuk menyampaikan kira-kira guidance di 2026 seperti apa,” tambahnya.