
Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) berpeluang melanjutkan tren kinerja positifnya pada 2026 seiring harga emas dunia yang terus mengalami lonjakan.
BRMS sendiri bakal meningkatkan kemampuan produksi emas dalam waktu dekat. Dalam berita sebelumnya, BRMS menargetkan produksi emas mencapai sekitar 80.000 ons troi pada 2026. Target ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi produksi tahun 2025 yang berada di kisaran 68.000 ons troi hingga 72.000 ons troi.
Sedangkan hingga kuartal III-2025, produksi emas BRMS telah mencapai 56.552 ons troi atau tumbuh 25% year on year (yoy) secara tahunan.
Peluang peningkatan produksi ini cukup terbuka. Hal ini seiring adanya penambahan kapasitas pabrik emas pertama BRMS dari 500 ton bijih per hari menjadi 2.000 ton bijih per hari yang dimulai pada kuartal IV-2026. Pabrik tersebut telah beroperasi sejak 2020 dengan metode carbon in leach (CIL).
Cermati Rekomendasi Saham Emiten Kertas di Tahun 2026 yang Bergerak Selektif
BRMS juga memiliki pabrik kedua dengan teknologi serupa yang telah beroperasi sejak 2023 dengan kapasitas pemrosesan rata-rata sekitar 4.500 ton bijih per hari.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, target produksi yang ditetapkan BRMS pada 2026 cukup realistis mengingat stabilitas pabrik kedua mereka di Palu yang sudah beroperasi penuh sekaligus peningkatan kapasitas pabrik pertama.
“Sekarang tinggal apakah BRMS bisa menambang bijih dengan grade tinggi dan faktor cuaca yang kondusif supaya utilisasi tetap maksimal,” ujar dia, Kamis (8/1/20226).
Secara umum, Wafi memperkirakan BRMS dapat kembali mencetak pertumbuhan penjualan dan laba bersih dobel digit pada 2026 seiring tingginya harga emas di pasar global. Hal ini tentu bisa tercapai dengan catatan produksi emas BRMS ikut mengalami kenaikan.
BRMS pun mesti mampu menjaga efisiensi biaya energi dan mempercepat kenaikan produksi agar momentum lonjakan harga komoditas emas tidak terlewat.
Risiko bagi BRMS bersifat teknis berupa fluktuasi kadar bijih emas yang dapat menekan efisiensi produksi.
“Di sisi lain, dampak kebijakan bea keluar ekspor cenderung minim karena produk akhir BRMS yaitu dore bullion mayoritas diserap smelter dalam negeri,” tutur dia.
Wafi pun merekomendasikan beli saham BRMS dengan target harga di level Rp 1.350 per saham.
BRMS Chart by TradingView
Analis BRI Danareksa Sekuritas Nashrullah Putra Sulaeman dan Naura Reyhan Muchlis sepakat bahwa peningkatan kapasitas pabrik pertama BRMS yang kelak beroperasi pada Oktober 2026 akan mendukung kenaikan volume prosuksi emas emiten tersebut.
Ditambah lagi, BRMS juga punya pabrik kedua yang memastikan keberlanjutan produksi selama masa transisi.
Lebih jauh, prospek BRMS secara jangka panjang juga didukung oleh proyek emas bawah tanah yang direncanakan selesai pertengahan 2027. Tambang ini telah mencapai kemajuan penggalian terowongan sepanjang 350 meter dan akan mengekstrak bijih dengan kadar 3,5–4,9 gram/ton.
“Tambang tersebut diperkirakan akan melipatgandakan produksi emas pada akhir 2027 atau awal 2028 dibandingkan dengan tingkat produksi tahun 2024,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam riset 5 November 2025.
Alhasil, BRI Danareksa Sekuritas menyematkan rekomendasi beli saham BRMS dengan target harga di level Rp 1.080 per saham.