
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek emiten-emiten data center pada 2026 dinilai masih terbatas, terutama karena likuiditas saham yang rendah dan belum adanya sentimen kuat yang mampu mendorong kenaikan harga secara berkelanjutan.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menegaskan bahwa saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Indointernet Tbk (EDGE) belum masuk dalam kategori yang dapat diberi rekomendasi (not rated).
“DCII, DSSA, dan EDGE saat ini not rated. Bid-offer masih lebar, volumenya juga tipis, sehingga dari sisi likuiditas belum ideal,” ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (7/1/2026).
Menurut dia, DCII dan EDGE masih beroperasi murni sebagai pemain data center, sehingga prospeknya akan sangat bergantung pada ekspansi kapasitas, utilisasi, dan permintaan layanan cloud serta colocation.
Pergerakan IHSG Ditopang Saham Emiten di Papan Pengembangan, Cek Rekomendasi Analis
Jika ekspansi mendapat respons positif dari pasar, potensi pertumbuhan tetap terbuka. “DCII dan EDGE itu data center murni. Kalau ekspansinya direspons positif, bisa memberi benefit ke depan,” jelasnya.
Sementara itu, DSSA dinilai berada pada kategori berbeda karena bisnis utamanya berada di sektor komoditas, terutama batubara.
DSSA Chart by TradingView
Kinerja kuat pada harga komoditas masih memberikan sentimen positif, namun perlu dicatat bahwa ekspansi ke bisnis IT dan data center masih bersifat diversifikasi.
“DSSA itu komoditas. Kalau harga komoditas naik terus, mereka dapat benefit. Diversifikasi ke IT bisa jadi tambahan keuntungan,” kata Nafan.
Adapun pada penutupan perdagangan Rabu (7/1/2026), saham DCII melemah 0,90% ke Rp222.000 per saham. Sementara EDGE menguat tipis 0,22% ke Rp4.550, dan DSSA menguat 5,12% ke Rp100.575 per saham.
Menakar Prospek BPD Melantai di Bursa, Begini Rekomendasi Sahamnya
Meski demikian, Nafan menilai ketiga emiten tersebut tetap menyimpan risiko besar, terutama dari sisi likuiditas perdagangan dan ketidakpastian realisasi ekspansi bisnis.
Selain itu, sensitivitas DSSA terhadap fluktuasi harga komoditas juga perlu mendapat perhatian investor. Hingga saat ini, ia menegaskan bahwa belum ada rekomendasi maupun valuasi resmi untuk ketiga saham tersebut.