Prospek emiten migas tetap positif walau harga minyak dunia terkoreksi

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Normalisasi harga minyak dunia yang terjadi belakangan ini berpotensi mempengaruhi kelangsungan usaha emiten-emiten produsen minyak dan gas (migas). Namun, peluang bagi emiten migas untuk mencetak kinerja positif tetap terbuka.

Berdasarkan data di situs Trading Economics, harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) telah terkoreksi 10,04% dalam sebulan terakhir ke level US$ 95,69 per barel pada Rabu (3/6) pukul 19.00 WIB. Di samping itu, harga minyak dunia Brent juga menyusut 14,44% dalam sebulan terakhir ke level US$ 97,89 per barel.

Penurunan ini terjadi di tengah meredanya tensi konflik geopolitik di Timur Tengah, meski risiko tetap ada seiring ketidakpastian proses negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

PMI Manufaktur Indonesia Naik, Dampak Bagi Emiten Tak Instan

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, koreksi harga minyak dunia relatif tidak begitu berdampak signifikan terhadap kinerja emiten migas dalam jangka pendek atau kuartal II-2026. Sebab, kontrak penjualan minyak mentah biasanya berdurasi pendek atau di bawah satu tahun, sehingga ada peluang pemulihan secara cepat jika harga komoditas rebound.

Emiten migas yang memiliki porsi portofolio berbasis gas bumi dalam jumlah besar seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) cenderung lebih defensif. Pasalnya, harga gas tergolong masih di level premium dan durasi kontrak untuk komoditas tersebut umumnya lebih panjang.

“Pertumbuhan kinerja masih terbuka selama harga minyak dunia di atas US$ 80 per barel dan volume lifting terjaga,” kata dia, Rabu (3/6).

Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore Kiswoyo Adi Joe menimpali, pelemahan harga minyak dunia yang terjadi saat ini masih cukup wajar. Emiten-emiten produsen migas pun tetap berpotensi mencatatkan kinerja keuangan positif selepas kuartal I-2026.

Risikonya kemungkinan margin laba emiten di sektor ini akan mengecil dibandingkan saat euforia lonjakan harga minyak berlangsung pada kuartal pertama lalu. “Selama emiten bisa menjaga biaya produksi tetap rendah atau maksimal US$ 20 per barel, harusnya kinerja mereka tetap aman,” ujarnya, Rabu (3/6).

Tren penurunan harga minyak dunia tentu tak selamanya dipandang negatif oleh emiten di sektor tersebut. Sebab, harga minyak yang lebih rendah menjadi kesempatan emas bagi emiten yang hendak mengakuisisi blok migas baru dengan nilai lebih rasional.

Ketika harga minyak dunia melonjak, valuasi blok migas cenderung premium dan terlalu mahal. Sebaliknya, saat harga minyak normalisasi, aksi jual-beli blok migas menjadi lebih fleksibel.

Sementara itu, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menyebut, salah satu langkah yang bisa ditempuh emiten migas untuk tetap mencetak kinerja optimal secara jangka panjang adalah berekspansi memperbesar porsi portofolio gas yang notabene harganya relatif lebih stabil.

“Ini untuk menghindari volatilitas pada harga minyak dunia,” imbuh dia, Rabu (3/6).

Selain itu, emiten juga harus memperkuat efisiensi biaya produksi atau sekaligus manajamen belanja modal atau capital expenditure (capex) secara disiplin.

Harry menjagokan ENRG sebagai emiten unggulan dari sektor migas. Saham ENRG ditargetkan dapat menyentuh level Rp 2.300 per saham.

Sedangkan menurut Wafi, emiten migas yang berpeluang mencetak kinerja maksimal pada 2026 adalah perusahaan dengan biaya lifting rendah, porsi gas besar, debt to equity ratio (DER) yang terkontrol, dan punya katalis volume produksi baru.

Dari situ, saham MEDC dan ENRG layak dipertimbangkan oleh investor. Harga wajar MEDC saat ini ada di level Rp 1.550 per saham dengan potensi upside 22%, sedangkan ENRG ditargetkan dapat mencapai level Rp 1.612 per saham.

Di lain pihak, Kiswoyo menyebut saham MEDC layak dikoleksi investor yang mengincar eksposur dari sektor migas. Selain didukung oleh portofolio gas yang melimpah, MEDC juga diuntungkan oleh diversifikasi bisnis di sektor mineral lewat PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan energi terbarukan lewat PT Medco Power Indonesia.

Harga saham MEDC diproyeksikan Kiswoyo dapat mencapai level Rp 1.800 per saham. 

Rekomendasi Teknikal Saham INDF, INCO, dan PTRO untuk Kamis (4/6)