
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Realestate Indonesia (REI) DKI Jakarta, mengungkap pengembang tak lagi hanya dapat mengandalkan pembiayaan bank untuk ekspansi pengembangan perumahan.
Ketua Umum (Ketum) DPD REI Jakarta, Arvin F. Iskandar menjelaskan bahwa untuk itu pihaknya tengah mendorong para pengembang dapat melaksanakan penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO).
“Ketergantungan pembiayaan konvensional bank saja tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan para developer untuk jangka panjang,” kata Arvin dalam agenda Go Public Workshop DPD REI Jakata di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (23/2/2026).
: Pengembang Respons Program Gentengisasi, Harga Rumah Subsidi Bakal Naik?
Terlebih, Arvin menilai pasar properti saat ini tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Di mana, siklus proyek yang panjang mendorong kebutuhan modal kerja yang cenderung besar.
Akan tetapi, realisasinya dinilai tidak mudah lantaran banyak pengembang rumah subsidi yang masih ragu untuk mulai memasarkan sahamnya ke publik.
: : Biang Kerok Pengembang Rem Proyek Apartemen di Jakarta
“Pengembang anggota DPD REI DKI Jakarta kurangi lebih saat ini ada 100 yang sudah Tbk. dan terus kita di REI DKI akan cari upaya agar semuanya bisa menjadi Tbk anggota REI DKI yang jumlahnya mencapai 500 perusahaan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait (Ara) juga sempat menginstruksikan agar para pengembang rumah subsidi dapat segera menggelar penawaran umum perdana atau IPO.
: : Tanah Terlantar Bisa Disita Negara, Pengembang Properti Ketar-Ketir?
Ara menyebut, upaya melantai di bursa itu diusulkan untuk memenuhi kebutuhan modal para pengembang dalam rangka mendukung target 3 juta rumah yang dibidik oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Kami juga bahas terkait pasar modal, sehingga nanti bagaimana pembiayaan itu tidak harus dari perbankan. Sehingga nanti para pengembang juga punya pilihan [dalam mencari modal].” jelasnya.