
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Reksadana berbasis dolar Amerika Serikat (AS) semakin diminati di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Sejumlah agen penjual efek reksadana (APERD) mulai menawarkan produk ini sebagai alternatif diversifikasi bagi investor.
Ketua Presidium Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana & Investasi Indonesia (APRDI) Lolita Liliana menjelaskan, kehadiran reksadana USD pada dasarnya didorong oleh kebutuhan investor untuk mengelola portofolio secara lebih seimbang, khususnya dalam menghadapi risiko fluktuasi nilai tukar.
“Investasi itu bentuknya portofolio. Reksadana USD hadir untuk diversifikasi, karena memang ada kebutuhan,” ujar Lolita di ruang seminar Bursa Efek Indonesia, Senin (20/4/2026).
Laba Bersih Astra Otoparts (AUTO) Naik 10,55% Jadi Rp 558 Miliar pada Kuartal I-2026
Menurutnya, instrumen ini umumnya diminati oleh investor yang memiliki kebutuhan dalam mata uang asing, seperti biaya pendidikan anak di luar negeri.
Dengan menempatkan dana dalam denominasi dolar AS, investor dapat mengurangi risiko pelemahan rupiah terhadap mata uang asing.
“Kalau disimpan dalam rupiah, ada risiko nilai tukar. Jadi biasanya penyimpanan dalam bentuk USD, baik reksadana, atau INDON, atau deposito dolar, lebih untuk hedging terhadap pergerakan mata uang,” jelasnya.
Meski demikian, Lolita menegaskan bahwa investasi pada reksadana USD tidak semata-mata terbatas bagi investor dengan kebutuhan spesifik. Produk ini juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana diversifikasi bagi investor yang ingin memperluas eksposur asetnya. Namun, ia mengingatkan bahwa produk reksadana berbasis dolar, atau offshore, umumnya memiliki batas minimum investasi yang relatif besar.
Hal ini menjadi salah satu mekanisme pembatas agar produk tersebut sesuai dengan profil risiko dan kebutuhan investor.
Ia menegaskan bahwa investasi reksadana USD lebih bersifat strategi diversifikasi portofolio, bukan faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang domestik.
“Balik lagi ke kebutuhan diversifikasi. Jadi bukan berarti akan membuat rupiah semakin melemah,” pungkasnya.
IHSG Dibuka Terkoreksi ke 7.524, Top Losers LQ45: DSSA, BREN dan BBRI, Selasa (21/4)