Jakarta, IDN Times – Nilai tukar atau kurs rupiah terus menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Siang ini, pukul 11.50 WIB, kurs rupiah menyentuh level terburuk sepanjang masa, yakni Rp17.508, dengan pelemahan 94 poin atau 0,54 persen.
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pihaknya berupaya memberikan bantuan kepada Bank Indonesia (BI) untuk mendorong stabilisasi nilai tukar rupiah.
“Kita akan coba membantu nilai tukar, kita membantu BI-lah sedikit-sedikit kalau bisa,” ucap Purbaya di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Selasa (12/5/2026).
1. Mulai intervensi pasar obligasi besok
Purbaya mengatakan, negara masih memiliki banyak dana yang menganggur, sehingga bisa digunakan untuk melakukan intervensi di pasar obligasi. Tujuannya ialah menjaga yield dari surat utang tidak terlalu tinggi, untuk menjaga investor asing sebagai pemegang obligasi tetap bertahan.
“Kita kan masih banyak uang nganggur, kita intervensi bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi. Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya apa? Asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar,” tutur Purbaya.
Dia pun mengatakan rencana intervensi pasar itu akan dilaksanakan mulai besok, Rabu (13/5/2026).
“Kita akan masuk besok, mulai besok,” kata Purbaya.
2. APBN masih tetap aman
Terkait kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah pelemahan rupiah, menurut Purbaya masih dapat diatasi. Bahkan, dia memastikan kondisi APBN tetap aman. Padahal, kurs rupiah saat ini jauh di atas asumsi APBN 2026 yang sebesar Rp16.500 per dolar AS.
Hal itu dia ungkapkan ketika merespons potensi tekanan pada APBN yang merupakan sumber dana untuk penyaluran kompensasi dan subsidi, termasuk kompensasi dan subsidi BBM. Sebab, di tengah lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan kurs rupiah, pemerintah tetap tidak menaikkan harga Pertamax dan Pertalite.
Purbaya mengatakan, sebenarnya dia memiliki asumsi nilai tukar rupiah yang lebih tinggi dari asumsi APBN 2026. Oleh sebab itu, dia meyakini kondisi APBN akan tetap aman.
“Pada waktu kita hitung itu, kita asumsinya sudah di atas APBN rupiahnya. Jadi enggak saya umumkan, tapi di atas itu, enggak jauh sama sekarang. Jadi APBN-nya masih relatif aman,” tutur Purbaya.
3. Pergerakan rupiah hari ini
Pagi tadi, nilai tukar rupiah melemah hingga 32 poin atau 0,18 persen ke Rp17.414 per dolar AS. Pada ke-10 menit perdagangan, kurs rupiah melemah 75 poin atau 0,43 persen ke Rp17.489 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan kemarin, Senin (11/5), rupiah melemah 32 poin atau 0,18 persen ke Rp17.414 per dolar AS.
Menurut analis pasar keuangan, Lukman Leong, pelemahan nilai tukar rupiah didorong oleh beberapa faktor. Pertama, sentimen negatif pasar terhadap mata uang negara berkembang di tengah redupnya peluang perdamaian AS dan Iran.
“Rupiah diperkirakan akan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah meredupinnya harapan damai AS-Iran serta harga minyak mentah dunia yg masih tinggi. Investor menantikan data penjualan ritel Indonesia yg akan dirilis siang ini,” tutur Lukman kepada IDN Times.
Tak hanya itu, pengumuman hasil rebalancing indeks dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) diperkirakan akan memperbesar sentimen negatif pada rupiah. Apalagi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan sejumlah saham Indonesia akan keluar dari indeks MSCI.
“Pengumuman MSCI hari ini diperkirakan tidak akan memberikan berita baik pada IHSG, dan akan ikut menekan rupiah,” tutur Lukman.
Rupiah Dibuka Melemah Jelang Pengumuman Rebalancing MSCI Rupiah Loyo hingga Penutupan, Parkir di Level Rp17.414 per Dolar AS Rupiah Terus Merosot, Cadangan Devisa Ludes dalam 3 Bulan