Saham BBCA sentuh level terendah 3 bulan, cek rekomendasi terbaru analis

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Saham emiten bank Grup Djarum, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) jatuh ke level intraday terendah dalam 3 bulan terakhir. Meski demikian, mayoritas analis masih merekomendasikan beli terhadap saham BBCA.

Di lantai bursa, saham BBCA terpantau stagnan di level Rp7.700 per saham pada Kamis (22/1/2026) hingga pukul 15.00 WIB. Sepanjang perdagangan hari ini, saham BBCA bermanuver di rentang Rp7.600-Rp7.700 per saham.

Sepanjang tahun berjalan 2026, saham BBCA melemah 4,64% dari posisi akhir 2025 Rp8.075 atau turun 5,8% dalam 30 hari terakhir. Bloomberg mencatat posisi saham BBCA menyentuh level terendah intraday 3 bulan. Dalam 52 minggu terakhir atau 1 tahun, saham BBCA sudah jeblok 20%.

“Saham BBCA diperdagangkan pada 16,4 kali estimasi laba per saham untuk tahun mendatang. Adapun, estimasi laba bersih tahun fiskal 2025 diperkirakan konsensus analis sebesar Rp57,7 triliun,” paparnya dalam riset, dikutip Kamis (22/1/2026).

Dari 37 analis yang mengulas saham BBCA, sebanyak 36 analis merekomendasikan beli terhadap saham bank swasta terbesar di Indonesia itu. Target harga saham BBCA berdasarkan konsensus analis Bloomberg berada di level Rp10.305 dalam 12 bulan ke depan.

: Arah Saham BBCA saat Jadi Sasaran Jual Investor Asing

Teranyar, analis UOB Kay Hian Sekuritas Posmarito Pakpahan memberikan rekomendasi beli untuk BBCA dengan target harga Rp10.100. Rekomendasi beli juga diberikan oleh analis Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat dengan target harga Rp9.800 dan analis Goldman Sachs Melissa Kuang dengan target harga Rp10.000 per saham.

Target harga yang lebih optimistis diberikan oleh analis BRI Danareksa Sekuritas dengan target harga Rp10.800, Citi Sekuritas dengan target harga Rp10.200, dan DBS Bank dengan target harga Rp11.700 per saham untuk BBCA.

Di sisi lain, analis JP Morgan Harsh Wardhan Modi menyematkan rekomendasi netral untuk saham BBCA dengan target harga Rp7.500 per saham.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis diperkirakan akan terjadi peningkatan laba emiten bank pada 2026. Meskipun demikian, pihaknya tetap bersikap defensif terhadap prospek sektor perbankan mengingat potensi revisi pendapatan konsensus, ketidakpastian makro, dan risiko kualitas aset.

“Meskipun kami mempertahankan peringkat netral untuk sektor perbankan, kami memilih BBCA dengan rekomendasi beli dan target harga Rp10.800 sebagai salah satu saham pilihan,” paparnya dalam riset.

Rekomendasi itu didukung oleh profil pendapatan dan kualitas aset yang relatif lebih aman. Adapun, target harga saham itu mengacu pada estimasi rasio price to earnings (P/E) sebesar 17,5 kali pada 2025 dan 17,2 kali pada 2026.

Bank Central Asia Tbk. – TradingView