Saham sawit AALI, TAPG cs siap panen cuan implementasi B50

Ussindonesia.co.id JAKARTA – Implementasi mandatori biodiesel B50 diproyeksikan menjadi katalis besar bagi sektor crude palm oil atau CPO, baik dari sisi harga komoditas maupun kinerja saham emiten perkebunan sawit. Kebijakan ini dinilai akan mengubah peta pasokan global sekaligus memperkuat fundamental industri dalam negeri.

Head of Research Kisi Sekuritas Muhammad Wafi melihat prospek harga CPO ke depan masih positif dan cenderung bullish. Menurutnya mandatori B50 diperkirakan menyerap jutaan ton tambahan CPO untuk kebutuhan domestik. Kondisi ini otomatis mengurangi alokasi ekspor Indonesia dan memperketat pasokan di pasar global.

“Pengetatan pasokan di pasar global ini yang akan menjaga harga CPO tetap di level yang tinggi,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).

: Uji Coba di Alat Berat Tambang, ESDM Klaim B50 Aman untuk Mesin Diesel

Wafi menilai kebijakan ini menjadi katalis positif bagi emiten sektor sawit dengan kepastian permintaan domestik dalam jumlah besar sehingga membuat risiko oversupply semakin kecil, sekaligus mendorong kenaikan average selling price (ASP).

Kisi Sekuritas menilai kondisi ini akan berdampak langsung pada peningkatan margin perusahaan. Emiten yang terintegrasi dari hulu hingga hilir termasuk fasilitas biodiesel (FAME), bahkan berpotensi meraih keuntungan ganda dari sisi volume dan margin.

Meski prospeknya cerah, sejumlah tantangan struktural tetap membayangi sektor ini. Salah satunya adalah stagnasi produksi akibat banyaknya tanaman tua yang membutuhkan peremajaan (replanting), serta risiko anomali cuaca yang dapat menekan produktivitas.

Selain itu, fokus pada pasar domestik berpotensi membuat emiten kehilangan momentum margin dari ekspor global. Risiko perubahan kebijakan seperti Domestic Market Obligation (DMO) serta fluktuasi tarif bea keluar dan pungutan ekspor juga menjadi faktor yang perlu dicermati.

Di sisi lain, tekanan biaya operasional, mulai dari harga pupuk global hingga kenaikan biaya tenaga kerja dan logistik, dapat menggerus margin jika tidak diimbangi dengan efisiensi.

Sejumlah saham unggulan yang direkomendasikan antara lain PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG)  dengan target harga Rp1.800, didukung efisiensi dan profil tanaman produktif. Selanjutnya PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) dengan target Rp8.500, memiliki skala bisnis besar dan neraca keuangan solid.

PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) dengan target Rp1.150, unggul dengan posisi kas bersih tanpa utang, serta saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dengan target Rp1.900, mencatat pertumbuhan produksi konsisten serta praktik ESG yang baik.

Senior Equity Research Mirae Asset Sekuritas Farras Farhan mengatakan sentimen kebijakan tersebut akan berdampak nyata terhadap emiten CPO yang memiliki refinery seperti PT Tunas Baru Lampung Tbk. (TBLA) dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS).

: Harga TBS Sawit Riau Tembus Rp4.000 per Kg, Ini Perinciannya

Sejalan dengan itu, Analis Panin Sekuritas Cliff Nathaniel juga melihat kebijakan B50, yang direncanakan mulai berjalan pada Juli 2026 akan meningkatkan alokasi CPO untuk biodiesel domestik, sehingga menopang harga seperti yang terjadi saat transisi ke B40 sebelumnya.

Terlebih, kenaikan harga minyak mentah yang sudah mencapai sebesar 14,1% secara tahunan akibat eskalasi geopolitik turut mendorong efek substitusi, di mana biodiesel menjadi lebih ekonomis dan meningkatkan permintaan CPO sebagai bahan baku.

Dengan posisi Indonesia sebagai produsen lebih dari 50% CPO global, implementasi B50 dinilai semakin memperkuat peran Indonesia sebagai penentu harga di pasar dunia. Meski volatilitas global masih tinggi, bias harga CPO diperkirakan tetap terjaga.

Namun demikian, dia mengingatkan bahwa dampak langsung ke beberapa emiten bisa relatif terbatas, mengingat belum banyak perusahaan CPO yang memiliki eksposur signifikan ke bisnis biodiesel. Oleh karena itu, manfaat utama tetap berasal dari kenaikan harga jual CPO.

Dia pun menyarankan agar investor lebih selektif, dengan fokus pada emiten yang memiliki produktivitas tinggi, terutama dengan usia tanaman yang optimal dan yield tandan buah segar (FFB) di atas 20 ton per hektar, agar dapat memaksimalkan leverage terhadap kenaikan harga.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.