
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Genap satu tahun sejak resmi diluncurkan pada 24 Februari 2025, Danantara Indonesia kini bertransformasi dari fase penataan awal menuju tahap pembuktian kinerja melalui konsolidasi aset strategis negara.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai dampak dari transformasi dan konsolidasi BUMN mulai menunjukkan geliat di pasar modal. Namun, dia mencatat pergerakan saat ini baru terbatas pada fase sentimental re-rating dan belum masuk ke tahap fundamental re-rating secara menyeluruh.
Di samping itu, Wafi menjelaskan bahwa investor asing juga telah menunjukkan minat yang lebih besar terhadap emiten pelat merah meskipun masih dibarengi dengan sikap optimistis secara hati-hati atau cautiously optimistic.
: Satu Tahun Danantara, Rekam Jejak Transformasi Wajah BUMN
“Asing sangat menyukai model sovereign wealth fund [SWF] atau superholding karena menjanjikan tata kelola yang lebih komersial, profesional, dan minim intervensi birokrasi. Hal itu terlihat dari net buy asing yang selektif pada saham BUMN unggulan,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (24/2/2026).
Meski demikian, pasar global tetap menyoroti skema pendanaan investasi jumbo hilirisasi yang sedang dijalankan Danantara. Untuk diketahui, Danantara menyiapkan dana investasi senilai US$25,1 miliar pada 2026.
: : Bos Danantara: Owner Chelsea dan Lakers Janji Bawa Klubnya ke Indonesia
Menurut Wafi, arus modal asing akan mengalir semakin deras selama Danantara mampu membuktikan eksekusi proyek dilakukan dengan struktur modal yang sehat tanpa membebani neraca utang emiten pelat merah.
Perihal strategi investasi 2026, saham-saham BUMN di bawah Danantara dinilai lebih menarik untuk orientasi jangka panjang. Perbaikan valuasi bertahap dan proyeksi dividend yield yang tinggi menjadi daya tarik utama bagi pemodal.
: : Prabowo Saksikan Kerja Sama Danantara-Arm di London, Bidik Kuasai Desain Chip Global
Sementara itu, terkait dengan prospek pertumbuhan laba pada emiten penghuni indeks IDX BUMN 20, Wafi memberikan proyeksi positif. Sektor perbankan seperti BMRI, BBRI, BBNI, BBTN, dan BRIS dinilai prospektif. Adapun, TLKM dan PGAS dianggap memiliki karakter defensif yang kuat serta stabil.
Adapun emiten tambang seperti ANTM dan PTBA dinilai atraktif dengan katalis masing-masing. Di sisi lain, saham sektor semen seperti SMGR diprediksi memasuki fase kebangkitan atau turnaround story pada tahun ini.
“Bagi investor jangka panjang, saham BUMN menawarkan double engine, potensi capital gain seiring perbaikan valuasi dan dividen yang optimal karena negara terus menuntut hasil yang maksimal dari Danantara,” pungkas Wafi.
Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX BUMN 20 tercatat menguat 8,83% sejak awal tahun atau year to date. Posisi ini unggul dibandingkan IHSG yang masih minus 2,90% dan LQ45 hanya tumbuh 0,14% pada periode yang sama.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.