
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dan gas dunia melonjak tajam sepanjang awal pekan ini setelah eskalasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengganggu arus pasokan energi global.
Lonjakan itu dipicu oleh serangan gabungan AS–Israel terhadap Iran yang berujung pada penutupan atau gangguan aktivitas di Selat Hormuz, jalur utama bagi sekitar sepertiga pasokan minyak dan gas dunia.
Melansir data Trading Economics pada Selasa (3/3/2026) pukul 14.10 WIB, harga minyak mentah WTI mencapai US$ 73,08 per barel, naik 2,59% dibandingkan hari sebelumnya dan 12,15% dalam sebulan terakhir. Sedangkan, harga gas alam mencapai US$ 3,02 per MMbtu.
Musim Hujan, Penjualan Sido Muncul (SIDO) di Kuartal IV Naik 50%
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan harga minyak mentah akan terus mengalami kenaikan selama eskalasi terus terjadi. Bahkan, ia menilai konflik tersebut akan menyebar ke negara-negara sekitarnya yang menyebabkan pasokan minyak berkurang.
“Dalam jangka pendek maupun jangka menengah ada kemungkinan harga minyak mentah ini akan terus mengalami kenaikan, saya memperkirakan mencapai US$ 90 – US$ 100 per barel. Ini yang ditakutkan pasar,” ujar Ibrahim kepada Kontan, Senin (02/03).
Sementara itu, menurut Ibrahim harga gas alam tetap mengalami kenaikan, tetapi kenaikannya tidak terlalu signifikan dibanding harga minyak mentah dunia.
Ibrahim mengatakan dampak dari kenaikan harga minyak mentah akan berpengaruh terhadap harga avtur pesawat yang notabene akan membebani konsumen. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah juga akan berdampak pada kenaikan BBM non subsidi di Indonesia.
Dampak lainnya, kata Ibrahim, akan dirasakan oleh para investor ritel yang melakukan kegiatan ekspor impor menggunakan mata uang dollar Amerika Serikat.
“Bagi investor ritel harus hati-hati dengan kondisi kenaikan migas serta dolar Amerika yang menguat sehingga investor harus menyiapkan dana cadangan,” imbuh Ibrahim.
Produksi Tambang Batu Hijau Menuju Normal, Pendapatan AMMN Diproyeksi Meningkat