Semen Indonesia (SMGR) catat laba Rp 80 miliar di kuartal I, cek rekomendasi sahamnya

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) membukukan laba bersih sebesar Rp 80 miliar pada kuartal I-2026, tumbuh 89% secara tahunan atau year on year (YoY). Meski secara persentase melonjak tinggi, tetapi kualitas pertumbuhan laba perseroan masih tertekan oleh tingginya biaya produksi.

Analis J.P. Morgan, Arnanto Januri dan Benny Kurniawan menilai pertumbuhan laba SMGR belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan fundamental operasional perusahaan. Dalam riset yang diterbitkan 30 April 2026, Arnanto dan Benny menyoroti kenaikan biaya yang masih membebani profitabilitas perseroan.

“Pendapatan kuartal I-2026 tumbuh 8% YoY, ditopang kenaikan volume penjualan semen domestik. Namun, pertumbuhan laba secara absolut hanya sekitar Rp 37 miliar yang menunjukkan biaya masih tinggi dan menggerus operating leverage,” tulis Arnanto dan Benny dalam risetnya.

CDS Naik, Begini Dampaknya ke SBN

Pada kuartal I-2026, penjualan SMGR tercatat Rp 8,29 triliun atau naik 8% YoY. Namun, margin laba masih terbatas. Margin EBITDA turun menjadi 13% dari sebelumnya 14%, sedangkan margin EBIT turun menjadi 3% dari 4% pada periode yang sama tahun lalu.

Tekanan terbesar berasal dari kenaikan biaya bahan bakar dan energi yang mencapai level tertinggi sejak 2019. Biaya fuel and energy per ton tercatat naik 13% secara kuartalan dan 3% secara tahunan.

Selain itu, biaya overhead lain per ton juga meningkat 13% YoY, sementara beban umum dan administrasi naik 11% YoY pada kuartal I-2026.

Di sisi volume, SMGR masih mencatat perbaikan penjualan domestik. Volume penjualan semen domestik tumbuh 5% YoY menjadi 6,54 juta ton. Penjualan semen kantong juga naik 11% YoY dan berkontribusi 75% terhadap bauran volume domestik, naik dari 71% pada tahun sebelumnya.

Meski demikian, Arnanto dan Benny tetap mempertahankan rekomendasi underweight untuk saham SMGR dengan target harga Rp 2.100 per saham.

Menurut Arnanto dan Benny, prospek industri semen pada 2026 masih menantang karena pertumbuhan permintaan diperkirakan minim di tengah kondisi makroekonomi yang lemah. Persaingan harga dari pemain regional juga dinilai masih akan menekan market share dan profitabilitas SMGR.

Pendapatan Berulang Jadi Penopang, Analis Rekomendasikan Beli Saham Pakuwon (PWON)

Namun, terdapat beberapa potensi katalis positif yang dapat mendukung kinerja SMGR, seperti pemulihan permintaan semen seiring belanja infrastruktur pemerintah, perbaikan daya beli masyarakat, hingga efisiensi biaya pada bisnis non-semen.