
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Kinerja emiten teknologi menunjukkan tren yang beragam pada periode kuartal I-2026.
Di tengah ketatnya persaingan industri digital dan tekanan profitabilitas, sebagian emiten mulai menunjukkan perbaikan fundamental, sementara lainnya masih menghadapi tantangan margin dan efisiensi bisnis.
Melansir kinerja keuangan, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berhasil membukukan laba bersih perdana sebesar Rp 170,7 miliar pada kuartal I-2026. Capaian tersebut berbalik dari rugi bersih Rp 366,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mencatat rugi bersih Rp 423,5 miliar pada kuartal I-2026, dari sebelumnya laba bersih Rp 111,7 miliar di kuartal I-2025.
Intip Rekomendasi Saham ASII, EMTK, MBMA, MEDC dan PGAS untuk Hari Ini (11/5)
Sementara PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) masih membukukan rugi bersih sebesar Rp 303,0 miliar pada kuartal I-2026, dari sebelumnya yang mencetak rugi bersih lebih besar pada kuartal I-2025, yakni Rp 638,1 miliar.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, prospek emiten teknologi sepanjang tahun 2026 masih akan bergerak mixed dan selektif.
Menurut Wafi, GOTO mulai menunjukkan titik balik (turning point) setelah berhasil mencetak laba bersih. Hal ini menandakan strategi efisiensi dan monetisasi ekosistem perusahaan mulai memperlihatkan hasil positif.
“GOTO mulai menunjukkan turning point setelah berhasil mencetak laba, artinya strategi efisiensi dan monetisasi ekosistem mulai terlihat hasilnya,” ujar Wafi kepada Kontan, Jumat (8/5/2026).
Sementara itu, BUKA dan BELI dinilai masih menghadapi tantangan dalam mencapai profitabilitas. Persaingan bisnis e-commerce yang masih agresif serta margin usaha yang tipis menjadi faktor utama yang membebani kinerja kedua emiten tersebut.
“BUKA dan BELI masih menghadapi tantangan profitabilitas, terutama karena kompetisi e-commerce masih agresif dan margin tipis,” katanya.
BUKA Chart by TradingView
Untuk tahun ini, Wafi melihat terdapat sejumlah katalis positif yang dapat menopang pergerakan saham sektor teknologi.
Salah satunya adalah potensi penurunan suku bunga global maupun domestik yang dapat mendukung valuasi saham growth seperti sektor teknologi.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi digital dan transaksi online yang terus meningkat juga dinilai menjadi sentimen positif bagi emiten teknologi.
Wafi menambahkan, adopsi layanan fintech dan logistik yang semakin luas dapat menjadi pendorong pertumbuhan bisnis perusahaan digital ke depan.
Sejalan dengan itu, Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta berpandangan, segmen fintech menjadi motor utama pertumbuhan GOTO yang melampaui ekspektasi pada periode ini.
Dia mencatat nilai transaksi bruto atau gross transaction value (GTV) fintech pada GOTO tumbuh 12% secara kuartalan (qoq) dan melonjak 72% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 230 triliun. Lalu, adjusted EBITDA segmen fintech juga melonjak menjadi Rp 364 miliar, naik 61% qoq dan melesat 674% yoy.
Namun demikian, Wafi tetap mewanti-wanti investor perlu mencermati sejumlah risiko yang masih membayangi saham sektor teknologi.
Di antaranya adalah kompetisi yang semakin ketat, perang harga antarpelaku industri, hingga potensi tekanan regulasi seperti pembatasan take rate layanan ojek online, dan juga tekanan margin.
Terkait kabar masuknya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebagai investor di GOTO, Wafi menilai dampaknya saat ini lebih besar dari sisi sentimen pasar dan persepsi investor.
Cermati Rekomendasi Saham Emiten yang Gelar Private Placement & Rights Issue
Menurut dia, keterlibatan Danantara memberi keyakinan bahwa GOTO memiliki dukungan strategis dan akses pendanaan yang lebih kuat. Namun untuk jangka panjang, pasar tetap akan menilai apakah dukungan tersebut benar-benar mampu memperbaiki fundamental dan profitabilitas perusahaan.
Dari sisi rekomendasi saham, Wafi merekomendasikan buy untuk saham GOTO dengan target harga Rp 75 per saham. Sementara saham BELI juga direkomendasikan buy dengan target harga Rp 520 per saham.
Adapun untuk saham BUKA, Wafi masih merekomendasikan wait and see sambil mencermati perkembangan kinerja perusahaan ke depan.
Tak ketinggalan, Ryan menjagokan saham GOTO untuk buy dengan target harga Rp 110 per saham.