
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Peluang rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai terbuka pada April 2026 dipicu kombinasi musim dividen, valuasi murah, dan fundamental ekonomi domestik yang relatif solid.
Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai pasar saat ini berada dalam mode risk-off akibat ketidakpastian global. Meski demikian, kondisi makroekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat untuk menahan koreksi lebih dalam.
Probabilitas Indonesia mengalami stagflasi diperkirakan hanya berkisar 5% hingga 10%. Risiko tersebut dapat meningkat apabila tensi geopolitik terus berlanjut dan mendorong kenaikan harga energi.
: Ironi IHSG Masuk Fase Distribusi Meski Makroekonomi Kian Membaik
“Yang perlu dilakukan pemerintah adalah harus bisa memastikan defisit APBN terjaga di batas aman, dan hal ini bisa meningkatkan kepercayaan investor global,” kata Nafan, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, koreksi IHSG sejak awal tahun telah membuat valuasi pasar menjadi lebih menarik. Kondisi ini mendorong investor untuk mulai melakukan akumulasi beli secara bertahap.
: : IHSG Ditutup Menguat ke 7.149, Saham Big Caps BUMI hingga ANTM Melaju
Nafan merekomendasikan investor untuk fokus pada saham dengan fundamental solid, undervalued, serta saham yang berada dalam fase rebound. Sejumlah saham yang direkomendasikan antara lain AADI, ADMR, AKRA, AMRT, ANTM, ARCI, BBCA, BUMI, dan MEDC.
Sementara itu, Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai sektor energi dan komoditas berpotensi menjadi penggerak pasar pada April 2026.
: : IHSG Dibuka Rebound Hari Ini (1/4), Saham INCO, BRPT, hingga BREN Melaju
Selain itu, momentum pembagian dividen dari emiten besar dinilai dapat menopang pergerakan indeks. Tercatat, sejumlah emiten seperti BBCA, BBNI, HIAS, dan ELPI akan membagikan dividen pada awal April 2026.
“Masuknya musim panen dividen dari emiten-emiten besar seperti perbankan dan lain-lain diharapkan memberikan support pada pergerakan IHSG,” ujarnya.
Samuel Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak volatil pada April 2026 di kisaran 6.850 hingga 7.200, dengan sentimen negatif utama berasal dari konflik Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga The Fed, dan potensi lanjutan aksi jual investor asing.
Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG pada perdagangan hari ini ditutup menguat 1,93% ke level 7.149,25. Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak fluktuatif di kisaran 7.136,25 hingga 7.207,17.
Total nilai transaksi hari ini mencapai Rp16,44 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 29,99 miliar saham dan frekuensi transaksi sekitar 1,989 juta kali.
Penguatan ini sejalan dengan rilis data inflasi Maret 2026 yang turun menjadi 3,48% secara tahunan serta surplus neraca perdagangan sebesar US$1,27 miliar pada Februari 2026.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.