Sustainable Finance Fest 2026 dorong keuangan berkelanjutan Indonesia

Perubahan iklim kini bukan hanya berdampak pada aspek lingkungan, namun juga memberikan dampak pada aspek sosial dan ekonomi. Hal ini disampaikan Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan, dan Pengendalian Kualitas Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Deden Firman Hendarsyah, saat tampil sebagai keynote speaker pada acara Sustainable Finance Fest 2026 di Hotel Le Meridien, Jakarta, Kamis (30/4).

Acara yang mengusung tajuk “Finance for Future: Giving the Green Shift a Lift” ini dipersembahkan oleh koalisi Responsibank Indonesia berkolaborasi dengan Katadata dan Yayasan Bicara Data Indonesia serta diselenggarakan oleh Sisi+ by Katadata.

Acara ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman publik tentang pentingnya keuangan berkelanjutan sekaligus membuka ruang dialog yang inklusif antara regulator, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan masyarakat.

Sustainable Finance Fest 2026 juga menjadi wadah untuk membangun jejaring di antara para pegiat ekonomi hijau, impact investors, dan komunitas, serta mendorong partisipasi aktif berbagai pihak dalam pengembangan keuangan berkelanjutan, baik melalui investasi hijau maupun advokasi kebijakan.

“Perubahan iklim bukan semata risiko lingkungan, namun berkembang menjadi risiko ekonomi dan risiko keuangan yang mengancam stabilitas,” ujar Deden.

Ia menambahkan, transisi menuju keuangan berkelanjutan merupakan upaya mitigasi risiko iklim yang bersifat kolektif dan melibatkan banyak pemangku kepentingan. Bagi pelaku industri keuangan sendiri, transisi ke arah yang lebih berkelanjutan merupakan suatu keniscayaan.

“Langkah untuk memitigasi risiko iklim bukan lagi praktik sukarela, namun kewajiban bagi industri keuangan kita,” imbuh Deden.

Ia mengingatkan pelaku industri keuangan bahwa transisi ke arah yang lebih berkelanjutan perlu dilakukan dengan kehati-hatian.

Menurut Deden, memilih untuk tidak bertransisi bukan berarti bebas dari risiko—justru sebaliknya. Risiko yang muncul akibat stagnasi bisa jauh lebih besar dan sulit dikendalikan dibandingkan risiko yang hadir dalam proses perubahan itu sendiri.

“Yang dibutuhkan adalah keberanian yang prudent, keberanian untuk berinovasi untuk merancang produk-produk (keuangan) yang hijau dan sustainable. Namun, keberanian ini juga harus disertai dengan kehati2an dan tata kelola yang baik,” tambahnya.

Lebih lanjut, Deden mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam mendorong transformasi di sektor keuangan.

“Perubahan iklim adalah isu lintas generasi, dan generasi mudalah yang akan paling lama menanggung konsekuensinya. Karena itu, dorongan dari masyarakat memainkan peran krusial dalam mendorong sektor keuangan dan perbankan untuk bertransformasi lebih cepat,” ujar Deden.

Deden mengajak masyarakat untuk menjadi investor yang lebih cerdas—tidak hanya mengejar imbal hasil, tetapi juga mempertimbangkan ke mana dana mereka disalurkan. Menurutnya, setiap rupiah yang diinvestasikan adalah suara untuk masa depan yang lebih baik bagi manusia dan bumi.

OJK telah mengeluarkan sejumlah regulasi yang mendorong pelaku-pelaku usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan dalam aktivitas bisnisnya, seperti POJK, Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI), dan Panduan CRMS (Climate Risk Management and Scenario Analysis).

Penerapan Prinsip Berkelanjutan Harus Jadi Kebutuhan

Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan Berkelanjutan OJK, R. Joko Siswanto, menyampaikan bahwa regulasi yang diterbitkan OJK dirancang untuk mengubah paradigma pelaku industri keuangan—dari sekadar kepatuhan menjadi kesadaran. Dalam jangka menengah dan panjang, OJK ingin penerapan prinsip berkelanjutan tumbuh dari kesadaran dan kebutuhan industri itu sendiri, bukan semata karena tuntutan aturan.

“Nantinya, pihak pasar atau publik yang akan ‘menghukum’ atau mengapresiasi pelaku usaha dalam menjalankan praktek-praktek berkelanjutan tersebut,” tambahnya.

Dari sisi pasar modal, Kepala Divisi Pengembangan 2 Bursa Efek Indonesia (BEI), Ignatius Denny Wicaksono, mengungkapkan bahwa bursa memiliki peran penting dalam menghubungkan investor dengan instrumen hijau. Menurutnya, pasar modal dapat menjadi motor penggerak investasi yang mendukung transisi ke arah yang lebih berkelanjutan.

“Tugas kita (BEI) adalah menavigasi ESG investment, yaitu bagaimana caranya supaya investor berinvestasi ke sektor yang lebih berkelanjutan,” ujar Ignatius.

Ia menambahkan, berkaca pada peran tersebut, pasar modal terus melakukan pendekatan-pendekatan untuk mendorong peningkatan investasi hijau.

Upaya-upaya yang dilakukan meliputi mendorong keterbukaan informasi, menggandeng pihak ketiga (ESG rating agency) untuk menilai performa ESG di pasar modal Indonesia, merilis 6 ESG Index, serta menyediakan produk-produk investasi.

Sementara itu, Direktur Eksekutif The PRAKARSA, Victoria Fanggidae, memaparkan bahwa transisi sektor keuangan ke arah yang lebih berkelanjutan perlu memperhatikan aspek-aspek sosial.

“Transisi energi kerap mengabaikan dampak sosialnya, seperti hilangnya lapangan kerja di sektor energi dan pertambangan. Ketika kita mendorong pensiun dini PLTU, misalnya, kita perlu memperhitungkan berapa banyak pekerjaan yang ikut hilang,” terangnya.

“Ketimpangan manfaat juga perlu menjadi perhatian. Banyak investasi hijau yang hanya menguntungkan korporasi, sementara masyarakat lokal justru menanggung dampaknya—baik dari sisi mata pencaharian maupun konflik lahan,” tutup Victoria.

Jadi Wadah Peningkatan Kapasitas

Sebagai rangkaian lanjutan, acara ini dilanjutkan dengan workshop session yang menghadirkan empat tema utama bersama para pembicara kompeten di bidangnya.

Workshop pertama mengangkat tema “Gerakan Anak Muda untuk Keuangan Berkelanjutan” dengan menghadirkan Koordinator Aksi Enter Nusantara Ramadhan dan Researcher Trend Asia Herdanang Fauzan, dimoderatori Project Officer Youth Force Revian Pratama.

Workshop kedua mengusung tema “Peran Jurnalis untuk Mencegah Greenwashing” yang diisi oleh Editor Ekuatorial Monica Dian, Communication Specialist Katadata Green Carolus Bregas Pranoto , dan founder dari Indonesian Journalists for Climate Dewi Safitri, dengan moderator Andjani Widya (YLKI).

Workshop ketiga bertajuk “Race to The Top: Akselerasi Implementasi Keuangan Berkelanjutan di Indonesia” menghadirkan Direktur pada Direktorat Pengembangan Perbankan Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bahruddin dan Head of Research Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Trioksa Siahaan , dimoderatori Spesialis Keuangan Berkelanjutan Dia Mawesti.

Adapun workshop keempat mengusung tema “Peran Masyarakat Sipil dalam Transparansi dan Akuntabilitas Sektor Keuangan” dengan narasumber Policy Strategist Coordinator Indonesia CERAH Dwi Wulan Ramadani dan Direktur Eksekutif TUK Indonesia Linda Rosalina, dimoderatori Koalisi Perempuan Indonesia Mike Verawati.