
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai prospek pasar saham Indonesia pada 2026 tetap konstruktif. Sekuritas asal Korea Selatan ini optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa melaju ke level 10.500.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan optimisme tersebut didukung dari ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta potensi kebijakan yang lebih akomodatif.
Untuk pertama kalinya, IHSG menutup perdagangan di level 9.000. Pada Rabu (14/1), IHSG ditutup menguat 0,72% ke level 8.948,30. Ini merupakan level tertinggi sepanjang masa alias all time high terbaru IHSG.
Rupiah Menguat Terbatas, Pasar Masih Waspadai Risiko Geopolitik Global
“Menariknya, penguatan IHSG di awal 2026 terjadi di tengah data ekonomi yang relatif kurang menggembirakan, mulai dari inflasi Desember yang tinggi, surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, hingga defisit fiskal yang melebar,” katanya, Rabu (14/1/2026).
Selain itu, tekanan eksternal juga masih membayangi pasar keuangan domestik. Sentimen risk-off global mendorong penguatan indeks Dollar AS (DXY), yang berdampak pada depresiasi nilai tukar rupiah.
Bahkan pertama kalinya, nilai tukar rupiah ditutup di atas level Rp 16.800 per dolar Amerika Serikat (AS) sejak April 2025. Pada akhir perdagangan Rabu (14/1), rupiah di pasar spot bertengger di level Rp 16.885 per dolar AS.
Menurut Rully, kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas. Kombinasi inflasi yang tinggi dan depresiasi rupiajhmenyebabkan Bank Indonesia memiliki ruang yang sangat sempit untuk menurunkan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20–21 Januari 2026.
Dia menilai dalam jangka pendek, arah kebijakan moneter akan sangat berhati-hati. Namun, pasar saham tetap bergerak positif karena pelaku pasar melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan, terutama jika kebijakan moneter dan fiskal dapat diselaraskan.
Rully memproyeksikan dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,3% 2026. Momentum ini akan sangat bergantung pada efektivitas kebijakan fiskal dalam mendorong belanja produktif dan menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
Keperkasaan Dolar AS dan Tekanan Domestik Bikin Mata Uang Asia Bergerak Fluktuatif
“Keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung target IHSG 10.500. Jika likuiditas terjaga dan stimulus fiskal berjalan efektif, pasar akan memiliki fondasi yang lebih kuat,” kata Rully.