
Presiden AS Donald Trump mengatakan dia memperpanjang gencatan senjata dengan Iran, yang semestinya berakhir Rabu (22/4). Trump juga memberikan sinyal perpanjangan gencatan senjata bersifat tanpa batas.
Dalam pesan yang diunggah di media sosial pada Selasa sore (21/4), Trump mengatakan bahwa ia telah diminta oleh perdana menteri Pakistan untuk menunda serangan.
“Oleh karena itu, akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan, dan diskusi diselesaikan, dengan satu atau lain cara,” tulis Trump, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (22/4).
Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut perpanjangan blokade pelabuhan oleh Trump sebagai taktik untuk mengulur waktu. “Ini tidak berbeda dengan pemboman dan harus ditanggapi dengan respons militer,” kata dia.
Apa Sebab Trump Perpanjang Gencatan Senjata?
Dikutip dari CNN, AS telah mengirimkan daftar poin-poin kesepakatan umum kepada Iran sebelum putaran pembicaraan berikutnya. Namun, hingga Selasa (21/4), tak ada respons dari Iran.
Tiga sumber CNN yang mengetahui negosiasi tersebut mengatakan para pembantu Trump percaya bahwa ada keretakan dalam kepemimpinan Iran saat ini. Hal tersebut berdasarkan laporan dari Pakistan yang merupakan mediator.
AS merasa Iran belum memiliki konsensus terkait pengayaan uranium. Faktor lainnya yang mempersuli adalah apakah pimpinan baru Iran, Mojtaba Khamenei memberikan arahan yang jelas terkait negosiasi.
Sumber tersebut juga mengatakan, Trump sebenarnya ingin memberikan Iran batasan jangka waktu. Namun, Trump juga mewaspadai kemungkinan menghidupkan kembali perang yang tidak populer tersebut.
Kapal Tanker di Selat Hormuz (Reuters)
Iran telah mendesak agar Trump mencabut blokade terhadap kapal-kapal yang masuk atau keluar pelabuhan Iran di Selat Hormuz jika ingin mereka hadir dalam negosiasi. Meski demikian, Trump menolak permintaan tersebut.
“Kami tidak akan membuka selat sampai kami mencapai kesepakatan akhir,” katanya Trump.
Baik AS maupun Teheran akan menderita secara ekonomi selama selat tersebut tetap tertutup, sehingga beberapa pejabat di kawasan itu berharap kedua pihak bisa mencapai solusi dalam waktu dekat.
Iran juga memberikan sinyal bahwa mereka enggan mengikuti aturan main AS. “Kelanjutan pengepungan tidak berbeda dengan pengeboman dan harus ditanggapi dengan respons militer,” kata Mahdi Mohammadi, penasihat Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Iran juga menyita dua kapal di Selat Hormuz pada hari Rabu (22/4). Ini adalah pertama kalinya Iran menyita kapal sejak perang dimulai pada akhir Februari. Garda Revolusi Iran (IRGC) juga memperingatkan bahwa setiap gangguan terhadap ketertiban dan keamanan di selat tersebut akan dianggap sebagai garis merah.