Update rencana buyback saham BNI (BBNI), maksimal Rp905,48 miliar

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) memangkas nilai pembelian kembali (buyback) saham menjadi maksimal Rp905,48 miliar, lebih rendah dari rencana sebelumnya yang mencapai Rp1,50 triliun.

Melalui laman resminya, manajemen BNI menyampaikan bahwa perkiraan nilai transaksi buyback tersebut tidak melebihi 10% dari jumlah modal yang ditempatkan dalam perseroan, yang berasal dari arus kas bebas (free cash flow) berupa saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya.

“Nilai transaksi buyback oleh Perseroan diperkirakan sebesar-besarnya Rp905.480.000.000, termasuk biaya transaksi buyback (meliputi biaya transaksi, biaya penyimpanan, dan commitment fee) sekitar 0,32% dari nilai eksekusi buyback,” tulis BNI, dikutip pada Rabu (4/3/2026).

: Begini Kesiapan Uang Tunai di BCA, Mandiri, BNI, dan BSI jelang Lebaran 2026

Sejalan dengan aksi korporasi tersebut, BNI memperkirakan aset dan ekuitas perseroan akan turun sebesar Rp905,48 miliar apabila seluruh pelaksanaan buyback saham didanai menggunakan arus kas bebas (free cash flow).

Meski demikian, perseroan menilai transaksi tersebut tidak akan berdampak material terhadap biaya operasional sehingga kinerja laba rugi diproyeksikan tetap sejalan dengan target yang telah ditetapkan.

Manajemen BNI juga meyakini pelaksanaan buyback tidak akan memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap kegiatan usaha, mengingat perseroan masih memiliki permodalan dan arus kas yang memadai untuk membiayai transaksi tersebut sekaligus mendukung operasional bisnis.

Pertimbangan Buyback

BNI memutuskan melakukan pembelian kembali (buyback) saham di tengah tekanan yang membayangi saham perbankan sepanjang 2025. 

Perseroan menilai ketidakpastian global akibat risiko geopolitik dan ancaman perang tarif, serta tantangan likuiditas dan perlambatan permintaan kredit di dalam negeri, telah menekan kinerja saham sektor perbankan lebih dalam dibandingkan bank-bank di kawasan regional.

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. – TradingView

Hingga 31 Desember 2025, harga saham BNI tercatat hanya tumbuh 0,5% secara tahunan (year-on-year/YoY). Meski kinerjanya relatif lebih baik dibandingkan bank domestik sekelasnya, saham BNI masih tertinggal dari bank-bank regional.

BNI juga mencermati bahwa meskipun pasar saham domestik mulai rebound pada akhir 2025 seiring kembalinya optimisme investor asing, arus dana masuk belum sepenuhnya pulih. 

Menurut perseroan, investor masih bersikap hati-hati dalam merespons peningkatan ketidakpastian global pada awal 2026, terutama akibat tensi geopolitik dan ancaman tarif Amerika Serikat. Ketidakstabilan geopolitik tersebut turut menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga sempat menyentuh level Rp16.985 per dolar AS, lebih lemah dibandingkan periode krisis moneter 1998.

Di sisi lain, BNI memastikan proyeksi kinerjanya tetap tumbuh positif dengan fundamental yang dinilai resilien. Perseroan menegaskan permodalan masih kuat, kualitas aset terjaga, pertumbuhan kredit relatif seimbang di seluruh segmen, serta dana murah tumbuh solid yang didukung transformasi digital dan penguatan jaringan.

Namun, perseroan mengakui eskalasi konflik geopolitik dan perang tarif yang berlanjut berpotensi memicu tekanan inflasi dari sisi nilai tukar serta menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), termasuk saham perbankan.

Melalui buyback, BNI ingin meredam tekanan jual di pasar saat indeks berfluktuasi sekaligus memberikan sinyal kepada investor bahwa harga saham saat ini belum mencerminkan fundamental perseroan.

Berikut perkiraan jadwal buyback saham BBNI:

1. Pengumuman RUPST dan Keterbukaan Informasi atas Rencana Buyback: 29 Januari 2026

2. Pengkinian Keterbukaan Informasi atas Rencana Buyback: 3 Maret 2026

3. Perkiraan Tanggal RUPST (yang menyetujui rencana buyback): 9 Maret 2026

4. Perkiraan Periode Buyback: 9 Maret 2026 sampai dengan 8 Maret 2026