Valas Asia melemah, dolar AS masih jadi penentu arah di 2026

Ussindonesia.co.id — JAKARTA. Sejumlah mata uang Asia melemah pada perdagangan Senin (5/1/2026) di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang didorong meningkatnya ketidakpastian global.

Berdasarkan data Bloomberg, Senin (5/1/2026)  pukul 18.50 WIB, dolar Singapura (SGD) melemah 0,08% ke 1,28 per dolar AS, won Korea (KRW) turun 0,22% ke 1.447,76 per dolar AS, dan rupiah (IDR) ditutup melemah 0,09% ke 16.740 per dolar AS. Sementara itu yen Jepang (JPY) menguat 0,15% ke 156,60 per dolar AS

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyebut, pelemahan valas Asia terjadi seiring penguatan dolar AS yang dipicu arah suku bunga AS, kenaikan imbal hasil obligasi, serta meningkatnya permintaan aset aman.

“Pelemahnya JPY, KRW, SGD, dan IDR umumnya terjadi saat dolar AS menguat karena kombinasi perubahan arah suku bunga AS, naiknya imbal hasil obligasi AS, dan meningkatnya kebutuhan investor untuk mencari aset yang dianggap paling aman,” ujarnya pada Kontan, Senin (5/1/2026).

Valas Asia Tertekan di Awal 2026, Dolar Kuat dan Risiko Global Membayangi

Menurut Josua, sentimen utama di 2026 mencakup arah kebijakan moneter AS, siklus investasi kecerdasan buatan (AI), serta risiko geopolitik dan fiskal domestik. Dolar AS diperkirakan melemah pada paruh pertama 2026 sebelum kembali stabil atau menguat di paruh kedua.

Kinerja valas Asia diperkirakan bervariasi. Dolar Singapura cenderung lebih stabil sebagai safe haven regional, won Korea berpeluang membaik jika sentimen teknologi pulih, sementara yen Jepang tetap volatil. Rupiah berpotensi menguat saat dolar melemah, namun rentan tertahan jika tekanan fiskal berlanjut.

Untuk akhir 2026, Josua memproyeksikan USD/JPY di sekitar 155, USD/KRW 1.420, USD/SGD 1,2700, dan USD/IDR di kisaran 16.700.

Josua menyarankan investor mengantisipasi pergerakan dua arah sepanjang 2026 dengan strategi diversifikasi lintas mata uang dan aset. Eksposur defensif pada dolar singapura dinilai lebih stabil, sementara won cocok bagi investor yang siap menghadapi volatilitas, serta lindung nilai bertahap tetap relevan bagi rupiah dan yen.

Konflik AS–Venezuela Dinilai Minim Dampak bagi Emiten Migas Indonesia