
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) melihat pasar Indonesia memulai pekan dengan tekanan setelah sentimen eksternal melemah akibat pembicaraan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang gagal meredakan ketegangan terkait konflik Iran
Di satu sisi, Fithra Faisal, Senior Macro Strategist Samuel Sekuritas Indonesia menyoroti rupiah yang terdepresiasi ke kisaran Rp 17.630– 17.672 per dolar AS pada Senin (18/5/2026). Ini meningkatkan kekhawatiran terhadap pelemahan mata uang lebih lanjut.
Sentimen pasar saham juga memburuk, dengan IHSG anjlok lebih dari 4% secara intraday seiring investor merespons depresiasi rupiah, tekanan rebalancing MSCI, serta sentimen risk-off yang lebih luas.
Rupiah Tertekan, Intervensi BI Bikin Outlook Pasar Obligasi Makin Ketat
Di saat yang sama, ekonomi China menunjukkan tanda-tanda perlambatan pada awal kuartal II 2026, dengan melemahnya output industri dan penjualan ritel yang turut menekan ekspektasi pertumbuhan regional.
“Kami memperkirakan volatilitas pasar masih akan tetap tinggi dalam jangka pendek, dengan stabilitas rupiah, arus dana asing, dan perkembangan geopolitik menjadi pendorong utama sentimen pasar,” ujar Fithra dalam risetnya pada Selasa (19/5/2026).
Fithra melihat jika rupiah terus melemah menuju Rp 18.000 per dolar AS, maka tekanan terhadap inflasi impor, margin korporasi, dan minat investor asing berpotensi meningkat.
Di dalam negeri, kekhawatiran terhadap iklim bisnis Indonesia juga dapat membebani momentum investasi, terutama setelah perusahaan lokal menyuarakan keluhan serupa dengan investor China.
Logisticsplus (LOPI) Bidik Pendapatan Rp 299,53 Miliar pada 2026, Ini Strateginya
Meski demikian, upaya pemerintah memperkuat kerja sama internasional, memperbaiki program prioritas, dan menjaga belanja strategis dapat memberikan dukungan terbatas, walaupun investor kemungkinan tetap berhati-hati hingga risiko eksternal dan stabilitas mata uang membaik.
