Was-was menyambut putusan MSCI, saham crazy rich penekan laju IHSG

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Saham-saham yang dikendalikan kelompok konglomerat menjadi pemberat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang periode berjalan 2026 (year to date/ytd). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Senin (26/1/2026), delapan dari 10 saham penghuni daftar top laggards sejak awal tahun merupakan saham milik konglomerat.

Tekanan dari saham konglomerat juga terlihat dalam perdagangan harian. Pada perdagangan Senin, sejumlah saham tambang batu bara menjadi penahan laju IHSG. Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) milik keluarga Bakrie melemah 7,27%, disusul kontraktornya PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) yang turun 8,03%. Saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) milik Low Tuck Kwong turut terkoreksi 2,06%, sementara saham PT Petrosea Tbk. (PTRO), kontraktor tambang batu bara milik Prajogo Pangestu, merosot 9,26%.

Tekanan juga datang dari sektor properti dan perbankan. Saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI), emiten properti yang berafiliasi dengan kelompok Salim dan Agung Sedayu, turun 5,76%. Adapun dua bank yang tergabung dalam entitas SWF Danantara, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), masing-masing terkoreksi 6,21% dan 1,52%.

: Tambang-Tambang Raksasa di Tangan Satgas PKH

Secara kumulatif sepanjang tahun berjalan, tekanan saham konglomerat terlihat lebih dominan. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) milik kelompok Djarum tercatat turun 5,26% (ytd). Dari kelompok Prajogo Pangestu, saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) melemah 21,10%, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) turun 26,92%, PT Petrosea Tbk. (PTRO) turun 23,80%, serta PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) terkoreksi 3,35%. Saham BUMI tercatat turun 9,29% sepanjang tahun berjalan.

Selain itu, saham PT Impack Pratama Industri Tbk. (IMPC) milik Haryanto Tjiptodihardjo turun 9,67%, saham PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) melemah 8,97%, serta saham BMRI turun 3,73% (ytd).

: : Anak Usaha CBDK Terbitkan Saham Baru, Modal Dasar IPN Naik jadi Rp8 Triliun

Tekanan dari saham-saham tersebut berlawanan arah dengan kinerja IHSG yang secara keseluruhan masih mencatatkan penguatan. IHSG naik 0,27% pada perdagangan Senin dan menguat 3,8% sepanjang tahun berjalan. Pada saat yang sama, investor asing membukukan beli bersih sebesar Rp24,25 miliar pada perdagangan kemarin dan mencapai Rp4,07 triliun secara kumulatif sejak awal tahun.

IHSG – TradingView

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menjelaskan MSCI menargetkan perubahan metodologi free float khusus Indonesia mulai berlaku pada Index Review Mei 2026, dengan pendekatan yang lebih konservatif melalui pembandingan data emiten dan data KSEI untuk mencerminkan saham yang benar-benar tradable. 

: : Bos Danantara Bocorkan Rencana Belanja Investasi Proyek 2026, Capai Rp235 Triliun

“Karena bobot MSCI berbasis free-float adjusted market cap, saham dengan kepemilikan terkonsentrasi berisiko mengalami penurunan bobot. Sementara itu, emiten dengan struktur kepemilikan lebih bersih dan likuid berpeluang relatif diuntungkan,” kata Liza, Senin (26/1/2025).

Liza menjelaskan perubahan ini berpotensi memicu rotasi foreign flow dari dana pasif dan ETF MSCI, dengan tekanan jual pada saham yang bobotnya turun dan minat beli pada saham yang bobotnya lebih stabil atau naik. 

Di pasar domestik, lanjut Liza, investor dan trader biasanya merespons dengan front-running, lonjakan volatilitas menjelang pengumuman dan tanggal efektif, serta perhatian lebih besar pada isu free float dan tata kelola.

Dalam kesempatan terpisah, Analis dan VP Head of Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menyebut pelemahan yang terjadi terhadap saham-saham konglomerat dilatarbelakangi beberapa faktor, seperti valuasi yang premium hingga aksi profit taking investor.

Menurutnya, kenaikan harga yang signifikan yang dialami oleh emiten-emiten konglomerat belakangan, telah mendorong realisasi pasar terhadap valuasi emiten sehingga terjadi rotasi sektoral.

“Kami melihat investor lebih menerapkan strategi taktikal dengan melihat momentum respons yang mempengaruhi core pendapatan, seperti emiten yang berkaitan dengan emas, aksi korporasi, hingga dampak kebijakan,” katanya belum lama ini (13/1/2026).

Top Gainers IHSG per 26 Januari 2026 Kode Harga Sebelumnya Harga Hari Ini Perubahan (%) JAST 111 149 34,23 MPIX 76 102 34,21 BBRM 188 252 34,04 ALKA 505 630 24,75 LMPI 202 252 24,75 GTRA 340 424 24,71 ELPI 830 1.035 24,70 KICI 236 294 24,58 ELSA 580 710 22,41 EMAS 6.175 7.300 18,22 Top Losers IHSG per 26 Januari 2026 Kode Harga Sebelumnya Harga Hari Ini Perubahan (%) AMAN 320 272 -15,00 ESTI 240 204 -15,00 INET 520 442 -15,00 MINA 520 442 -15,00 PUDP 585 498 -14,87 KIOS 165 141 -14,55 KRYA 124 106 -14,52 TRIN 1.370 1.175 -14,23 UANG 6.375 5.475 -14,12 GTSI 370 318 -14,05 BEI Tunggu MSCI

Besarnya dampak MSCI juga disadari oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Self regulator BEI ini masih menunggu keputusan final terkait dengan perubahan metodologi perhitungan free float MSCI yang akan diumumkan pada Jumat (30/1/2026).

BEI berharap keputusan tersebut tidak sepenuhnya mengikuti skema yang sebelumnya disampaikan dalam konsultasi publik karena dinilai berpotensi berdampak terhadap pasar modal Indonesia.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menjelaskan, MSCI telah melakukan konsultasi publik sejak November hingga Desember tahun lalu dengan melibatkan berbagai klien global sebelum mengambil keputusan akhir. Dalam proses tersebut, BEI secara aktif menyampaikan keberatan, khususnya terkait metodologi baru yang akan digunakan dalam perhitungan free float.

Irvan menyampaikan, salah satu keberatan utama BEI adalah metode tersebut seharusnya diterapkan secara setara di seluruh negara. Selain itu, metode yang dikonsultasikan dinilai kurang tepat, padahal MSCI memiliki alternatif metode lain yang dapat digunakan.

Ia menegaskan bahwa selama ini data free float yang digunakan MSCI bersumber dari keterbukaan informasi perusahaan tercatat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menurut Irvan, juga memiliki pandangan yang sama. Apabila terdapat ketidaksesuaian antara data yang diungkapkan emiten dan kondisi sebenarnya, OJK memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan.

Terkait kekhawatiran potensi arus dana keluar atau capital outflow akibat perubahan metodologi tersebut, Irvan menilai masih terlalu dini untuk berspekulasi.

“Kita tunggu saja keputusan MSCI tanggal 30 Januari 2026. Kami berharap hal itu tidak terjadi,” ujarnya, Senin (26/1/2026).

Irvan optimistis pasar modal Indonesia tetap memiliki daya tarik bagi investor asing. Optimisme tersebut didukung oleh pertumbuhan jumlah investor, peningkatan kedalaman pasar, serta nilai transaksi harian. Menurut dia, BEI terus menjaga daya saing pasar melalui inovasi produk, pengembangan mekanisme perdagangan, dan peningkatan kualitas perusahaan tercatat.

“Kami selalu berharap yang positif, bahwa pasar kita akan terus menerima inflow, baik dari investor ritel, industri lokal, maupun institusi asing,” katanya.

Irvan juga mengungkapkan bahwa BEI telah mengirimkan surat resmi kepada MSCI untuk menyampaikan keberatan atas metodologi tersebut. Selain BEI, sejumlah asosiasi pasar modal serta perusahaan tercatat yang menjadi konstituen indeks MSCI turut menyampaikan keberatan serupa.

Meski demikian, BEI memilih menunggu keputusan resmi MSCI sebelum melakukan perhitungan lebih lanjut terhadap dampak kebijakan tersebut.

“Kami tunggu keputusan MSCI akan seperti apa. Baru nanti kami berhitung, tapi kami sudah melakukan berbagai upaya. Nanti kami lihat saja keputusannya seperti apa,” ujar Irvan.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.