
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Harga minyak mentah dunia merosot, dipicu perkembangan terbaru negosiasi geopolitik di Timur Tengah. Pasar merespons laporan bahwa Iran akan mengirim delegasi ke Islamabad, Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS) sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir.
Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (21/4) pukul 12.06 WIB, minyak West Texas Itermediate (WTI) turun 1,61% secara harian ke level US$ 86,01 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent terkoreksi 1,14% ke posisi US$ 94,39 per barel.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai harga minyak saat ini masih sangat dipengaruhi dinamika konflik di Timur Tengah.
IHSG Turun 0,59% ke 7.549 Sesi I, Top Losers LQ45: DSSA, BREN & BBRI, Selasa (21/4)
“Umumnya memperkirakan masih akan berlangsung lama, maka harga minyak mentah dunia diperkirakan masih akan tinggi, terlebih tidak sedikit fasilitas atau kilang minyak yang rusak dan tidak beroperasi dari dampak perang,” ujar Lukman kepada Kontan, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, konflik tersebut telah menahan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah dan memicu defisit pasokan global yang signifikan.
Dalam jangka pendek, Lukman memperkirakan harga minyak akan bergerak pada kisaran US$ 80 hingga US$100 per barel. Namun, apabila negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran tidak mencapai kesepakatan dan konflik masih berlanjut, harga minyak berpotensi melonjak hingga menembus US$ 150 per barel.
Dengan kondisi tersebut, arah tren harga minyak dinilai masih belum terbentuk secara jelas. Investor cenderung memanfaatkan volatilitas jangka pendek melalui strategi buy on weakness dan sell on strength.
Sementara itu, investor dengan profil risiko lebih agresif dapat mulai mempertimbangkan akumulasi untuk jangka panjang, dengan tetap mencermati perkembangan geopolitik sebagai faktor utama penggerak harga.
BEI Intensif Lobi MSCI, Ancaman Downgrade Saham Indonesia Mulai Mereda