Yield SBN tinggi, Bond Stabilization Fund dinilai hanya jadi penyangga stabilitas

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Pemerintah berencana mengaktifkan kembali Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga stabilitas pasar obligasi domestik di tengah tingginya volatilitas global dan tekanan pada nilai tukar rupiah.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, instrumen ini disiapkan sebagai dana stabilisasi yang dapat digunakan untuk melakukan pembelian kembali (buyback) Surat Berharga Negara (SBN) ketika yield mengalami kenaikan terlalu tajam.

Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Putri Nur Astiwi, menilai keberadaan BSF cukup efektif untuk meredam lonjakan yield SBN dalam jangka pendek.

IHSG Berpotensi Menguat Terbatas pada Jumat (8/5), Cek Rekomendasi Sahamnya

Menurutnya, kehadiran BSF dapat membantu menjaga sentimen pasar sekaligus memberikan keyakinan kepada investor bahwa pemerintah tetap hadir menjaga stabilitas pasar keuangan saat volatilitas meningkat.

“Kehadiran BSF dapat membantu menjaga sentimen pasar, menahan yield spike, dan memberi keyakinan bahwa pemerintah hadir saat volatilitas meningkat. Namun, efektivitasnya tetap terbatas jika tekanan utama masih datang dari faktor global,” ujar Putri kepada Kontan, Kamis (7/5/2026).

Meski begitu, Putri mengingatkan efektivitas BSF tetap memiliki keterbatasan apabila tekanan pasar lebih banyak berasal dari faktor global.

Menurutnya, pelemahan rupiah, kenaikan yield US Treasury, hingga konflik geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar obligasi domestik. Karena itu, BSF dinilai lebih berperan sebagai penyangga stabilitas, ketimbang menjadi instrumen yang mengubah arah pasar.

“Pemerintah sendiri juga menyiapkan BSF untuk menjaga stabilitas pasar obligasi dan rupiah, sementara BI tetap aktif menjaga pasar melalui operasi stabilisasi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Putri menilai arah yield SBN hingga sisa tahun 2026 masih akan sangat dipengaruhi perkembangan risiko global, terutama konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, tekanan terhadap rupiah, serta respons kebijakan Bank Indonesia (BI).

Jika tekanan eksternal masih bertahan, yield SBN diperkirakan tetap berada di level tinggi dan bergerak volatil.

Rupiah Menguat ke Rp 17.333, Begini Arah Rupiah (8/5) Jelang Rilis Data Cadev

Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi tantangan menjaga subsidi energi dan daya beli masyarakat di tengah potensi kenaikan harga minyak. Menurut Putri, langkah tersebut memang penting untuk menjaga stabilitas domestik, tetapi sekaligus berpotensi meningkatkan tekanan fiskal apabila harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama.

Adapun setelah sempat hampir mendekati level 7% pada kisaran bulan Maret hingga April 2026, yield SBN tenor 10 tahun kini mulai melandai ke kisaran 6,7% pada Kamis (7/5).

Bagi investor, Putri melihat level yield yang tinggi saat ini mulai menciptakan peluang masuk yang menarik di pasar obligasi. Namun, investor dinilai masih cenderung berhati-hati karena pasar tetap sensitif terhadap perkembangan global.

 

“Dalam jangka pendek investor masih cenderung wait and see karena pasar tetap sensitif terhadap durasi konflik, arah harga minyak, dampaknya terhadap inflasi, respons BI, serta potensi pelebaran risiko fiskal jika beban subsidi meningkat,” jelasnya.

 

Dalam kondisi tersebut, Putri menyarankan investor untuk masuk secara bertahap dan tetap selektif melihat momentum pasar.