Pasar saham makin ramai diminati anak muda, apalagi sejak banyak perusahaan besar melantai di bursa lewat skema Initial Public Offering atau IPO. Banyak investor pemula tertarik karena harga saham IPO sering dianggap punya peluang cuan cepat dalam waktu singkat. Namun, di balik potensi keuntungan tersebut, ada juga risiko yang sering diabaikan.
Tidak sedikit pemula yang akhirnya rugi karena terlalu terburu-buru membeli saham IPO tanpa strategi yang jelas. Padahal, membeli saham IPO tidak cukup hanya ikut tren atau rekomendasi media sosial saja. Kalau kamu ingin mulai investasi dengan lebih aman, penting banget memahami kesalahan pemula saat beli saham IPO berikut ini.
1. Terjebak FOMO tanpa membaca prospektus
Kesalahan paling umum yang sering dilakukan investor baru adalah membeli saham hanya karena sedang ramai dibicarakan. Fenomena ini biasanya dipicu rasa takut ketinggalan atau Fear of Missing Out (FOMO). Akibatnya, banyak orang langsung membeli saham IPO tanpa tahu kondisi perusahaan sebenarnya.
Padahal, prospektus adalah dokumen penting yang wajib kamu baca sebelum membeli saham IPO. Di dalamnya ada informasi lengkap mengenai bisnis perusahaan, laporan keuangan, risiko usaha, hingga rencana penggunaan dana hasil IPO. Dari dokumen ini, kamu bisa menilai apakah perusahaan tersebut benar-benar layak untuk investasi jangka panjang atau tidak.
Kalau hanya ikut hype, kamu berisiko membeli saham yang valuasinya terlalu mahal atau bisnisnya belum stabil. Tidak sedikit saham IPO yang sempat naik tinggi di awal, lalu turun drastis beberapa hari kemudian karena investor sadar fundamental perusahaan ternyata kurang kuat.
Supaya lebih aman, biasakan membaca ringkasan prospektus minimal bagian bisnis perusahaan, laba bersih, dan utang perusahaan. Langkah sederhana ini bisa membantu kamu menghindari keputusan impulsif saat berburu saham IPO.
2. Menggunakan “uang panas” untuk membeli saham
Banyak pemula terlalu semangat membeli saham IPO sampai rela memakai dana kebutuhan sehari-hari. Ada juga yang menggunakan uang pinjaman atau dana darurat demi ikut membeli saham yang sedang populer. Padahal, langkah seperti ini sangat berisiko.
Saham termasuk instrumen investasi dengan pergerakan harga yang fluktuatif. Artinya, harga saham bisa naik maupun turun dalam waktu cepat. Kalau kamu menggunakan “uang panas”, tekanan mental saat harga turun biasanya jadi jauh lebih besar.
Akibatnya, investor pemula sering panik dan buru-buru menjual saham saat harganya turun sedikit. Padahal, penurunan harga di awal perdagangan IPO sebenarnya cukup normal terjadi di pasar saham. Karena itu, gunakan dana dingin saat membeli saham IPO. Dana dingin adalah uang yang memang tidak dipakai untuk kebutuhan penting dalam waktu dekat.
Dengan begitu, kamu bisa lebih tenang menghadapi pergerakan harga saham tanpa harus mengambil keputusan emosional. Selain itu, jangan langsung menghabiskan seluruh modal hanya untuk satu saham IPO. Tetap lakukan diversifikasi agar risiko kerugian bisa lebih terkontrol.
3. Membeli di pasar sekunder pada hari pertama (panic buying)
Kesalahan berikutnya adalah membeli saham di pasar sekunder pada hari pertama karena takut harga terus naik. Biasanya kondisi ini terjadi ketika saham IPO mengalami kenaikan signifikan saat awal perdagangan. Banyak investor pemula langsung melakukan panic buying tanpa mempertimbangkan harga yang sudah terlalu tinggi. Mereka berharap saham akan terus naik, padahal kenaikan ekstrem di hari pertama sering kali hanya dipicu euforia pasar.
Dalam beberapa kasus, harga saham justru mengalami koreksi setelah kenaikan tajam tersebut. Investor yang membeli di harga pucuk akhirnya terjebak rugi karena harga saham turun kembali. Sebelum membeli saham IPO di pasar sekunder, coba perhatikan dulu valuasi dan kondisi pergerakan harga.
Jangan mudah terpancing komentar media sosial atau grup investasi yang terlalu berlebihan. Kalau memang tertarik pada perusahaan tersebut, kamu bisa menunggu harga lebih stabil terlebih dahulu. Strategi ini sering lebih aman dibanding membeli secara terburu-buru hanya karena takut ketinggalan momentum.
4. Mengabaikan tujuan penggunaan dana IPO
Masih banyak investor pemula yang tidak memperhatikan untuk apa dana IPO digunakan perusahaan. Padahal, informasi ini penting karena bisa memberi gambaran arah bisnis perusahaan ke depan. Ada perusahaan yang menggunakan dana IPO untuk ekspansi bisnis, membuka cabang baru, membayar utang, hingga menambah modal kerja. Secara umum, penggunaan dana untuk pengembangan bisnis biasanya dianggap lebih positif dibanding hanya untuk melunasi utang besar.
Kalau perusahaan terlalu banyak menggunakan dana IPO untuk membayar kewajiban lama, kamu perlu lebih berhati-hati. Informasi penggunaan dana IPO biasanya tercantum jelas di prospektus perusahaan. Dengan memahami bagian ini, kamu bisa menilai apakah perusahaan memiliki rencana pertumbuhan yang sehat atau tidak.
Membeli saham IPO memang terlihat menarik karena potensi keuntungannya cukup besar dalam waktu singkat. Namun, tanpa pemahaman yang baik, investor pemula justru bisa terjebak kerugian akibat keputusan emosional dan minim riset. Karena itu, penting untuk lebih teliti sebelum membeli saham IPO agar investasi yang kamu lakukan bisa lebih aman dan sesuai tujuan finansial jangka panjang.
4 Hal yang Perlu Dipertimbangkan sebelum Membeli Saham IPO 5 Alasan untuk Tidak Membeli Saham IPO Meski Menguntungkan, Tunggu! 5 Tips Investasi Saham IPO, Jangan Asal Pilih Perusahaan!