Analis ungkap biang kerok IHSG kian melorot dekati level 7.000

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) masih mengalami tekanan hingga perdagangan hari ini dengan akumulasi penurunan sebesar 15,04% dalam sebulan terakhir. Sentimen geopolitik global sampai ketahanan fiskal negara yang sedang disorot membuat pasar masuk dalam mode risk-off.

Melansir IDX Mobile, IHSG ditutup melemah sebesar 1,61% atau 114,92 poin menuju 7.022,28. Indeks komposit hari ini dibuka pada level 7.115,45 dan sempat menyentuh posisi tertingginya ke level 7.120,18.

Tercatat, hanya 180 saham menguat, 542 saham turun, dan 98 saham stagnan. Sementara itu, kapitalisasi pasar alias market cap mencapai Rp12.439 triliun.

Dari jajaran saham big caps, penurunan harga dicatatkan oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) sebesar 8,89% ke level Rp4.510 dan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) terkoreksi 8,03% menjadi Rp61.550 per saham. 

Sebaliknya, kenaikan harga masih ditorehkan saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) yang mencatat penguatan sebesar 1,89% ke posisi Rp4.320. Saham PT Astra International Tbk. (ASII) kemudian menyusul dengan kenaikan 0,43% menuju level Rp5.850 per saham.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan koreksi IHSG dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlanjut dan memicu lonjakan harga komoditas energi seperti minyak dan batu bara. 

“Hal ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi global serta kemungkinan kebijakan moneter global yang lebih ketat dalam jangka waktu lebih lama,” ujarnya, Senin (16/3/2026).

: Rupiah Ditutup Melemah, Nyaris Parkir di Level Rp17.000 per Dolar AS

Untuk perdagangan pekan ini yang hanya berlangsung selama 2 hari, 16-17 Maret 2026 karena libur panjang Nyepi dan Idul Fitri, Hari melihat pelemahan pasar tak hanya terjadi di dalam negeri.

Dia memperkirakan pergerakan indeks utama Wall Street seperti S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite masih berada di bawah tekanan seiring kontrak futures indeks AS yang masih bergerak melemah, mengindikasikan potensi lanjutan tekanan jual pada awal pekan.

Menurutnya, investor global cenderung mempertahankan sikap risk-off dalam jangka pendek, sehingga volatilitas pasar saham AS diperkirakan masih akan tetap tinggi selama ketidakpastian geopolitik dan stabilitas pasokan energi global belum menunjukkan tanda mereda.

Dari sisi domestik, pasar juga mencermati pernyataan pemerintah melalui Menteri Keuangan yang mulai mempertimbangkan penyesuaian atau pengurangan beberapa pos belanja APBN guna menjaga defisit fiskal tetap berada di bawah batas 3% terhadap PDB.

IDX COMPOSITE INDEX – TradingView

Apabila defisit fiskal terus melebar, beberapa risiko yang dapat muncul antara lain meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah, tekanan terhadap imbal hasil obligasi negara, serta potensi pelemahan nilai tukar akibat meningkatnya persepsi risiko investor terhadap stabilitas fiskal.

Menurutnya, kombinasi ketidakpastian global serta kehati-hatian kebijakan fiskal tersebut mendorong investor cenderung mengambil posisi risk-off, sehingga menekan pergerakan IHSG sejak sepanjang pekan lalu.

“Kombinasi dinamika fiskal dan arah kebijakan moneter tersebut diperkirakan akan menjadi faktor utama yang membentuk sentimen dan arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek,” tandasnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.