
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Rencana pemerintah menerbitkan Panda Bonds di pasar keuangan China dinilai masih memiliki prospek menarik di tengah meningkatnya tekanan dolar AS dan kebutuhan diversifikasi pembiayaan negara.
Namun, di saat bersamaan, pemerintah juga diingatkan untuk tidak mengabaikan keluhan pelaku usaha China terkait iklim investasi dan kepastian regulasi di Indonesia yang dapat memengaruhi persepsi investor.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi menilai penerbitan Panda Bonds masih berpeluang menarik minat investor China meski di tengah munculnya keluhan dari Kadin China terkait sejumlah kebijakan di Indonesia.
Ramayana Lestari (RALS) Bagi Dividen Rp 306,73 Miliar, Dividen Yield Capai 11,01%
Namun, pemerintah diminta tidak mengabaikan sinyal negatif terhadap persepsi iklim investasi tersebut.
“Panda Bonds masih berpeluang menarik bagi investor China, tetapi daya tariknya tidak berdiri sendiri,” Ujar Syafruddin kepada Kontan.co.id, Kamis (14/5).
Menurut dia, keluhan Kadin China mengenai kewajiban Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), rencana kenaikan royalti minerba, penegakan hukum, hingga kepastian regulasi memang dapat menurunkan tingkat kepercayaan terhadap iklim investasi sektor riil Indonesia.
Meski begitu, investor obligasi memiliki pertimbangan berbeda dibanding investor sektor riil. Mereka lebih melihat kredibilitas fiskal pemerintah, kemampuan bayar negara, stabilitas nilai tukar rupiah-yuan, hubungan diplomatik, likuiditas pasar, serta tingkat imbal hasil yang ditawarkan.
“Jika Indonesia menawarkan kupon yang kompetitif di pasar China, Panda Bonds tetap dapat menarik karena memberi investor China akses pada surat utang negara berkembang besar dengan rekam fiskal yang relatif kredibel,” katanya.
Syafruddin menyebut pemerintah menargetkan Panda Bonds memiliki biaya penerbitan lebih rendah, yakni sekitar 2,3% hingga 2,5%. Angka tersebut dinilai tetap menarik karena lebih tinggi dibandingkan yield obligasi pemerintah China.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keluhan dunia usaha China harus dibaca sebagai alarm reputasi bagi pemerintah Indonesia. Menurutnya, investor akan meminta premi risiko lebih tinggi apabila kepastian aturan dan konsistensi kebijakan dinilai lemah.
“Keberhasilan Panda Bonds bergantung pada dua hal sekaligus, yakni harga yang menarik dan sinyal kebijakan yang menenangkan,” imbuhnya.
Karena itu, pemerintah diminta menunjukkan komitmen dalam menghormati investasi, menegakkan hukum secara adil, serta menjaga konsistensi regulasi. Tanpa pembenahan tersebut, Indonesia dinilai tetap bisa menjual Panda Bonds, tetapi harus menanggung biaya kepercayaan yang lebih mahal.
Syafruddin juga menilai penerbitan Panda Bonds dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi tekanan dolar AS terhadap pembiayaan negara. Namun, instrumen tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya jalan keluar.
Ia menjelaskan, ketika suku bunga dolar masih tinggi dan pasar Treasury AS menyerap likuiditas global, Indonesia memang perlu memperluas sumber pembiayaan agar APBN tidak terlalu bergantung pada dolar AS.
Dari sisi stabilitas eksternal, pembiayaan dalam yuan dinilai dapat membantu mengurangi kebutuhan pembiayaan dolar, memperluas basis investor, serta memberi ruang manajemen risiko ketika rupiah mengalami tekanan.
Meski demikian, Syafruddin mengingatkan adanya risiko nilai tukar karena kewajiban pembayaran utang dilakukan dalam yuan, sementara APBN berbasis rupiah. Jika rupiah melemah terhadap yuan, maka beban pembayaran utang dapat meningkat.
“Karena itu, pemerintah harus menghitung biaya efektif, termasuk kupon, lindung nilai, biaya penerbitan, dan risiko nilai tukar,” katanya.
Ia menambahkan, Panda Bonds akan lebih sehat apabila digunakan untuk mendanai belanja produktif seperti logistik, energi, industri, pendidikan, dan hilirisasi.
Sebaliknya, jika hanya digunakan menutup defisit rutin, utang murah dalam yuan berpotensi berubah menjadi beban fiskal baru.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Panda Bonds akan memiliki daya saing yang baik. Pemerintah disebut akan menawarkan surat utang tersebut dengan harga lebih murah dibandingkan Dim Sum Bonds yang diterbitkan pada Oktober 2026. Purbaya juga menargetkan penerbitan Panda Bonds dilakukan pada Juni 2026.
Rupiah Melemah 0,30% ke Rp 17.529 per Dolar AS Kamis (14/5), Rekor Terendah Lagi