
Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada Kamis (9/4/2026) di tengah ketidakpastian geopolitik global. IHSG turun 40,75 poin atau 0,56 persen ke level 7.238,46.
Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 yang turun 5,05 poin atau 0,69 persen ke posisi 728,57. Tekanan pasar dipicu sikap pelaku pasar yang masih mencermati dinamika konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, pihaknya melihat resisten IHSG berikutnya ada di angka 7.325. “Jika level ini mampu ditembus pula, maka IHSG akan semakin melaju menuju target 7.600 yang merupakan resistance jangka menengah,” katanya, Kamis (9/4/2026).
Dari eksternal, kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran belum mampu meredakan ketidakpastian. Iran bahkan menuding AS melanggar sejumlah klausul, sementara ketegangan di Lebanon masih berlangsung.
Kondisi tersebut memicu volatilitas harga minyak global, dengan minyak WTI dan Brent berada di kisaran 97 dolar AS per barel. Ketidakpastian di Selat Hormuz juga menambah tekanan terhadap pasar energi dan sentimen investor.
Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia turun menjadi 148,2 miliar dolar AS pada Maret 2026 dari sebelumnya 151,9 miliar dolar AS. Penurunan ini mencerminkan tekanan eksternal, termasuk intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah.
Selain itu, dua kapal tanker Pertamina masih tertahan di kawasan Teluk Persia akibat kendala teknis dan keamanan. Pemerintah memastikan pasokan energi tetap aman karena sumber impor dapat dialihkan ke negara lain.
Sementara itu, bursa global menunjukkan pergerakan beragam. Bursa Eropa dan Wall Street kompak menguat, sedangkan mayoritas bursa Asia melemah pada perdagangan pagi ini.