Lonjakan harga minyak hingga gangguan pasokan ancam kinerja emiten petrokimia

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Emiten-emiten produsen petrokimia dihadapkan oleh situasi ketidakpastian seiring lonjakan harga minyak mentah dunia di tengah konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip Trading Economics, harga minyak dunia terus mengalami kenaikan. Pada Rabu (4/3/2026) pukul 17.20 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 naik 1,23% ke level US$ 75,47 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah Brent berjangka untuk kontrak pengiriman Mei 2026 naik 1,83% ke level US$ 82,89 per barel.

Bersamaan dengan itu, harga bahan baku petrokimia seperti naphtha ikut melesat 5,74% ke level US$ 669,98 per ton.

Outlook Negatif dari Fitch dan Gejolak Global Membayangi, Simak Prospek SBN

Salah satu pemain besar di sektor petrokimia, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengumumkan force majeure kepada mitra usahanya sesuai ketentuan kontraktual yang berlaku. Hal ini menyusul gangguan pasokan minyak mentah di Selat Hormuz yang sementara sedang diblokade Iran.

“Kami secara aktif memantau perkembangan situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berkembang, dan mengambil langkah antisipatif untuk memastikan ketahanan operasional di seluruh unit bisnis kami,” ungkap dia dalam keterangan resmi, Rabu (4/3/2026).

Sebagai mitigasi, TPIA akan mengurangi tingkat operasional (run rates) di pabrik perusahaan. Saat ini TPIA juga aktif melakukan koordinasi dengan pelanggan untuk memitigasi dampak gangguan pasokan tersebut. 

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, lonjakan harga minyak dunia dan blokade di Selat Hormuz jelas berdampak negatif bagi emiten-emiten petrokimia. Pasalnya, biaya bahan baku petrokimia yang didapat dari minyak mentah naik secara drastis dan bisa menggerus margin laba emiten.

Ditambah lagi, utilitas pabrik petrokimia terancam turun akibat kelangkaan pasokan bahan baku yang membuat produksi berkurang.

“Pendapatan mungkin naik karena inflasi harga jual, namun laba bersih berpotensi terkoreksi dalam jangka pendek,” ujar dia, Rabu (4/3/2026).

Saham Big Banks Kompak Melemah Rabu (4/3), BBNI Catat Penurunan Terdalam

Senada, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, kenaikan harga minyak di atas US$ 75 per barel biasanya diikuti oleh kenaikan harga naphtha dan bahan baku petrokimia lainnya. Alhasil, biaya produksi berisiko meningkat, terutama bagi produsen petrokimia yang bergantung pada bahan baku impor dari Timur Tengah.

Jika gangguan logistik berlanjut, utilisasi pabrik bisa terganggu akibat keterlambatan pasokan atau kenaikan biaya pengadaan. Dalam jangka pendek, kondisi ini berpotensi menekan margin karena kenaikan biaya belum tentu bisa langsung diteruskan ke harga jual produk akhir.

“Kinerja top line maupun bottom line berisiko melemah, khususnya jika permintaan domestik juga belum pulih sepenuhnya,” imbuh dia, Rabu (4/3/2026).

Untuk menghadapi risiko lonjakan harga minyak dan gangguan pasokan, emiten petrokimia perlu menerapkan diversifikasi sumber bahan baku, termasuk mencari alternatif pemasok dari wilayah yang lebih stabil secara geopolitik meski upaya itu mungkin dibarengi oleh konsekuensi biaya logistik lebih tinggi.

Selain itu, strategi lindung nilai (hedging), optimalisasi efisiensi energi, penyesuaian bauran produk ke produk dengan margin lebih tinggi, serta penguatan manajemen persediaan menjadi krusial dalam kondisi penuh ketidakpastian seperti sekarang. Tak hanya itu, integrasi bisnis dari hulu-hilir juga bisa membantu meredam volatilitas.

Eks Direktur Mirae Asset Terlibat, OJK Taksir Manipulasi Saham BEBS Capai Rp 14,5 T

Menurut Arinda, harga minyak mentah yang ada di kisaran US$ 75 per barel sebenarnya masih dalam kategori moderat secara historis. Namun, sensitivitas-nya tetap tinggi karena industri petrokimia beroperasi dengan margin yang siklikal.

“Jika harga stabil di kisaran ini dan tidak melonjak tajam, dampaknya relatif masih bisa dikelola. Namun, yang lebih berisiko adalah lonjakan cepat dan berkepanjangan disertai disrupsi fisik pasokan,” ungkap dia.

Untuk ke depannya, prospek kinerja emiten-emiten petrokimia masih bersifat selektif. Permintaan produk petrokimia domestik dalam jangka menengah tetap berpotensi tumbuh seiring industrialisasi, hilirisasi, dan pertumbuhan konsumsi manufaktur. Namun, dalam jangka pendek, volatilitas energi dan ketidakpastian geopolitik dapat membuat kinerja emiten sektor ini berfluktuatif.

Wafi pun bilang, potensi pertumbuhan kinerja emiten petrokimia cenderung terbatas selama tensi geopolitik masih tinggi. Emiten petrokimia yang bisa bertahan adalah mereka yang punya portofolio bisnis terintegrasi secara vertikal atau memiliki diversifikasi bisnis ke sektor lain untuk menopang arus kas operasional.

  TPIA Chart by TradingView  

Lantas, Wafi menyebut saham-saham seperti TPIA dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dapat dipertimbangkan oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 6.000 per saham dan Rp 1.950 per saham.

Sebaliknya, saham PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI) dan PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG) disarankan wait and see.