Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini Bank Indonesia (BI) mampu mengendalikan nilai tukar rupiah pada 2026.
Nilai tukar rupiah tercatat bergerak menguat dengan level terakhir Rp 16.768 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (27/1/2026), setelah sebelumnya hampir menyentuh Rp 17.000 atau berada di level Rp 16.945 per dolar AS pada Selasa (20/1/2026).
“Saya pikir mereka cukup ahli dan saya akan menyerahkan ini kepada bank sentral. Mereka cukup jago mengendalikan nilai tukar rupiah,” kata Purbaya kepada wartawan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa.
Meski mengandalkan bank sentral, Purbaya menyatakan akan terus berkoordinasi secara aktif dengan otoritas moneter dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. “Bank sentral akan menjaga nilai tukar rupiah dan kami akan berkoordinasi terus dengan bank sentral. Saya yakin akan menguat. Pak Gubernur tadi juga bilang menguat terus. Saya ikut saja,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan menguat secara fundamental. Optimisme tersebut didukung inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang membaik, imbal hasil investasi yang menarik, serta komitmen BI dalam menjaga stabilitas rupiah.
Menurut Perry, faktor yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah saat ini bersifat jangka pendek, salah satunya tekanan inflasi akibat kenaikan harga pangan atau volatile food.
Kondisi tersebut dipengaruhi cuaca ekstrem serta bencana alam yang berdampak pada distribusi komoditas pangan.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi nasional, Bank Indonesia telah menurunkan BI Rate sebanyak lima kali sejak September 2024 menjadi 4,75 persen, sekaligus tetap membuka peluang penurunan suku bunga lanjutan.
Perry mengatakan BI juga terus melakukan intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, termasuk di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Selain itu, BI melakukan intervensi di pasar tunai (spot) serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri.
Nilai Tukar Rupiah Menguat
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa, bergerak menguat 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp16.768 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.782 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi sentimen global yang relatif kondusif. “Penguatan rupiah hari ini lebih mencerminkan respons terhadap sentimen global yang relatif kondusif,” katanya.
Taufan menerangkan pergerakan rupiah masih sejalan dengan arah dolar AS dan sentimen risiko pasar keuangan internasional. Dolar yang melemah dan selera risiko pelaku pasar yang membaik turut memberi ruang bagi mata uang emering markets untuk menguat, termasuk rupiah.
Kendati demikian, penguatan tersebut masih terbatas seiring pasar tetap berhati-hati terhadap ketidakpastian kebijakan moneter global dan rilis data ekonomi AS yang berpotensi memicu volatilitas.
Melihat sentimen domestik, lanjutnya, pasar mencermati faktor kebijakan dan persepsi terhadap kredibilitas otoritas moneter.
Penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) turut menjadi perhatian, kata dia, namun dampaknya cenderung bersifat psikologis dan jangka pendek. “Pelaku pasar valuta umumnya lebih menimbang isu independensi bank sentral dan konsistensi kebijakan stabilisasi nilai tukar dibandingkan figur personal,” ungkap Taufan.
Karena itu, selain pengaruh sentimen global yang kondusif, penguatan rupiah juga cermin dari keyakinan pasar terhadap BI yang tetap menjaga stabilitas, bukan semata akibat perubahan jabatan di internal bank sentral.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru bergerak melemah ke level Rp 16.801 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.779 per dolar AS.
Data pergerakan rupiah dari tahun 2020 sampai 2025. – (Republika.co.id)